Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan peringatan keras kepada seluruh pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia agar menjauhkan institusi pendidikan dari praktik pragmatisme politik dan kepentingan ekonomi. Menurutnya, pendidikan adalah sebuah pengabdian luhur yang seharusnya berorientasi pada pencerdasan kehidupan bangsa, bukan sebagai sarana untuk melanggengkan kekuasaan atau mengeruk keuntungan finansial.
Dalam pernyataannya di Bantul, Haedar menekankan bahwa setiap individu yang memegang amanah di sektor pendidikan, mulai dari tingkat kementerian, dinas pendidikan, hingga kepala sekolah, wajib memahami esensi tanggung jawab tersebut. Ia menyoroti bahwa menjadikan sekolah atau perguruan tinggi sebagai ladang bisnis adalah langkah keliru yang akan memberikan dampak negatif jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Haedar juga menyoroti kelemahan sistemik dalam dunia pendidikan Indonesia yang sering kali terjebak dalam kebijakan jangka pendek. Pergantian rezim pemerintahan kerap kali menyebabkan arah pembangunan pendidikan tidak berkesinambungan, di mana setiap pemimpin baru cenderung memulai kembali strategi dari titik nol tanpa adanya peta jalan (roadmap) yang konsisten dan berkelanjutan.
Sebagai contoh nyata pengabdian, Haedar mengangkat peran Muhammadiyah yang telah berkontribusi mencerdaskan bangsa selama lebih dari satu abad. Sejak sebelum masa kemerdekaan, Muhammadiyah telah hadir memberikan akses pendidikan bagi masyarakat menengah ke bawah, membuktikan bahwa pendidikan dapat dijalankan dengan semangat filantropi dan pengabdian murni tanpa harus mengandalkan motif keuntungan.
Meski demikian, Haedar mengakui adanya secercah harapan melalui visi Pendidikan Emas 2045 yang kini menjadi acuan arah pembangunan jangka panjang. Untuk merealisasikan visi tersebut, ia menyerukan perlunya langkah konkret berupa reaktualisasi, revitalisasi, reformasi, hingga transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pada akhirnya, Haedar mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan reorientasi cara pandang terhadap pendidikan nasional. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada integritas para pengambil kebijakan dalam memegang prinsip tanggung jawab moral, demi memastikan generasi masa depan bangsa mendapatkan kualitas pendidikan yang mumpuni dan beradab.