Bisnis & Startup

Harga Cabai Rawit Merah Sentuh Rp58.150 per Kg di Pasar Nasional

Ringkasan

  • PIHPS BI mencatat cabai rawit merah Rp58.150/kg dan telur ayam Rp29.000/kg Kamis pagi secara nasional.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat cabai rawit merah dijual pada level Rp58.150 per kilogram pada Kamis pagi. Telur ayam ras menyusul di posisi Rp29.000 per kg, berdasarkan pemantauan yang dirilis Bank Indonesia melalui sistem PIHPS pukul 07.42 WIB.

Data tersebut dikumpulkan dari harga eceran di berbagai daerah Indonesia dan menjadi rujukan harian bagi pembuat kebijakan serta pelaku usaha ritel. Lonjakan pada komoditas pedas dan protein ini langsung memengaruhi daya beli rumah tangga di tengah tekanan inflasi pangan yang masih terasa di beberapa provinsi.

Kenaikan harga cabai dan telur bukan kejadian mendadak. Pola musiman memasuki periode pancaroba kerap memicu gangguan pasokan dari sentra produksi ke konsumen. Distribusi logistik yang tidak merata antara Pulau Jawa dan luar Jawa turut memperlebar selisih harga di tingkat pedagang kecil.

Bank Indonesia melalui PIHPS memang merancang sistem ini untuk memotong rantai informasi yang selama ini tertutup. Ketika harga diumumkan secara terbuka tiap pagi, pedagang dan pembeli memiliki acuan yang sama sehingga praktik patok harga sepihak dapat ditekan. Namun, transparansi data belum otomatis menurunkan harga jika pasokan fisik di pasar tidak bertambah.

Latar belakang lainnya adalah struktur biaya produksi peternak ayam dan petani cabai yang masih bergantung pada input luar seperti pakan dan benih. Kenaikan harga pakan tahun lalu memaksa peternak memperkecil skala produksi. Akibatnya, stok telur di pasar eceran cenderung menipis saat permintaan stabil dari sektor warung makan.

Dampak langsung dirasakan oleh ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro makanan. Pedagang nasi uduk atau bakso di pinggiran kota harus menyesuaikan takaran atau menaikkan harga jual yang berisiko kehilangan pembeli. Bagi kelas menengah ke bawah, cabai dan telur adalah komoditas tak tergantikan dalam menu harian.

Bawang merah tercatat di angka Rp44.550 per kg dan bawang putih Rp44.050 per kg pada pemantauan sama. Beras varian bawah di kisaran Rp14.650 hingga Rp14.700 per kg, sedangkan kualitas super mencapai Rp17.650 per kg. Komoditas ini membentuk keranjang belanja yang mendominasi pengeluaran bulanan keluarga Indonesia.

Cabai merah besar berada di Rp48.650 per kg dan cabai keriting Rp47.250 per kg, sementara cabai rawit hijau Rp52.100 per kg. Daging ayam ras segar Rp38.350 per kg, daging sapi kualitas I Rp150.500 per kg, dan kualitas II Rp142.350 per kg. Gula pasir premium Rp20.400 per kg, gula lokal Rp19.100 per kg.

Minyak goreng curah dilego Rp20.500 per liter. Minyak kemasan bermerek I Rp24.300 per liter dan bermerek II Rp23.450 per liter. Data PIHPS menjadi dasar koordinasi antara Kementerian Perdagangan dan pemerintah daerah saat menentukan operasi pasar.

Menurut catatan PIHPS yang dikelola BI, pemantauan harga dilakukan secara otomatis dari ribuan titik perdagangan eceran. Sistem ini memang dirancang untuk mendeteksi gejolak harga lebih awal dibandingkan survei tradisional yang memakan waktu hariannya.

Proyeksi ke depan menunjukkan harga cabai berpotensi turun jika panen raya di Jawa Timur dan Sumatera Utara lancar masuk ke pasar dalam dua pekan. Telur ayam butuh waktu lebih panjang karena siklus bertelur peternak memerlukan penyesuaian stok indukan baru.

Pemerintah daerah diperkirakan akan memperbanyak pasar murah terutama di wilayah dengan indeks harga pangan di atas rata-rata nasional. Sinergi antara data BI dan distribusi subsidi logistik akan menentukan apakah tren harga pangan akhir bulan melandai atau terus menekan inflasi inti.

Perspektif Indonesia dari sisi teknologi menunjukkan bahwa digitalisasi pemantauan pangan seperti PIHPS sudah selangkah lebih maju dibanding negara tetangga yang masih menggunakan laporan mingguan. Integrasi data BI dengan aplikasi pedagang pasar berbasis Android mulai diuji di Jabodetabek untuk mempercepat input harga real-time. Masyarakat luas dapat memanfaatkan situs PIHPS sebagai alat negosiasi belanja, bukan sekadar angka harian.

Ke depan, perluasan sensor IoT di gudang penyimpanan komoditas strategis dapat memprediksi stok sebelum harga naik. Startup logistik agrikultur lokal seperti Sayurbox dan TaniHub berpeluang menyerap data publik ini untuk menyetarakan harga antara kota besar dan daerah tertinggal. Teknologi bukan mengganti pasar tradisional, melainkan membuatnya lebih adil bagi petani kecil dan konsumen ujung.

Mengapa Ini Penting

Gejolak harga cabai dan telur menyentuh langsung pengeluaran 80 persen rumah tangga Indonesia yang menjadikan kedua komoditas sebagai kebutuhan harian tak tergantikan. Transparansi data PIHPS penting agar negara dapat merespons lebih cepat lewat operasi pasar sebelum inflasi pangan merambat ke sektor lain. Lebih dari itu, digitalisasi pemantauan harga membuka peluang startup logistik lokal menekan selisih harga antardaerah. Jika tidak dikelola, lonjakan ini akan memperlebar beban kelompok miskin kota yang sudah tertekan biaya energi.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit