Harga minyak dunia kembali mencatatkan penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (24/6/2026), menyentuh level terendah sejak dimulainya konflik Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah Brent tercatat diperdagangkan di bawah level US$75 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Februari, dipicu oleh kembalinya aktivitas pelayaran tanker di Selat Hormuz pasca kesepakatan damai antara kedua negara tersebut.
Chris Beauchamp, kepala analis pasar di platform perdagangan IG, menyebut kondisi ini sebagai 'pembantaian' harga minyak yang terus berlanjut. Meski demikian, ia menambahkan bahwa penurunan ini memberikan angin segar bagi konsumen global, dengan catatan industri minyak mampu segera mengisi celah pasokan setelah berbulan-bulan mengalami disrupsi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Data dari firma pelacakan maritim Kpler menunjukkan peningkatan lalu lintas kapal komoditas di Selat Hormuz. Meski masih jauh dari volume normal masa damai yang mencapai 120 kapal per hari, pemulihan akses ini menjadi sinyal positif bagi kestabilan rantai pasok energi global. Pemerintah AS melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan komitmennya untuk mempertahankan navigasi bebas hambatan di selat strategis tersebut.
Di sisi lain, bursa saham Wall Street mencatat dinamika yang bervariasi. Indeks Nasdaq ditutup melemah selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Para investor saat ini tengah menimbang kembali valuasi perusahaan semikonduktor dan sektor teknologi yang selama ini terdorong oleh euforia kecerdasan buatan (AI). Jack Ablin dari Cresset Capital menilai bahwa pelemahan ini mencerminkan rotasi modal dari sektor teknologi ke sektor lain yang selama ini kinerjanya tertinggal.
Berbeda dengan sektor teknologi yang tertekan, indeks Dow Jones justru mencatat kenaikan sebesar 0,4 persen. Sementara itu, di pasar Asia, indeks Kospi di Seoul berhasil bangkit dengan kenaikan lebih dari tiga persen setelah sempat anjlok tajam pada hari Selasa akibat aksi jual pada raksasa chip seperti Samsung dan SK hynix. Pasar di Hong Kong dan Shanghai juga menunjukkan tren penguatan, meski Tokyo masih ditutup di zona merah.
Di pasar mata uang, dolar AS terus menguat pasca pertemuan Federal Reserve pekan lalu. Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, memberikan indikasi kuat bahwa prioritas utamanya adalah menekan inflasi yang dipicu oleh tingginya harga energi. Sinyal mengenai potensi kenaikan suku bunga pada bulan September meningkatkan permintaan terhadap dolar, seiring dengan daya tarik imbal hasil obligasi pemerintah AS yang semakin menggiurkan bagi para investor global.