Meskipun harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren penurunan setelah meredanya konflik di Timur Tengah, para pengendara di Singapura tampaknya harus bersabar. Analis memperingatkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat pengecer tidak akan segera kembali ke level sebelum konflik, meskipun harga minyak mentah Brent saat ini sudah berada di kisaran US$72 per barel, mendekati angka sebelum krisis di bulan Februari.
Data dari Price Kaki menunjukkan bahwa harga bensin 95-oktan di berbagai SPBU utama seperti Esso, Shell, SPC, Caltex, dan Sinopec masih bertahan di kisaran S$3,36 hingga S$3,37 per liter. Angka ini tercatat setidaknya S$0,48 lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada 23 Februari lalu. Bagi pemilik kendaraan dengan kapasitas tangki 47 liter, perbedaan harga ini memberikan beban tambahan sekitar S$23 hingga S$25 untuk setiap kali pengisian penuh.
Fenomena lambatnya penurunan harga BBM ini dalam dunia ekonomi dikenal dengan istilah "rocket and feathers". Istilah ini menggambarkan perilaku harga yang melonjak sangat cepat saat harga minyak mentah naik, namun bergerak turun secara sangat perlahan ketika harga minyak mentah dunia mulai terkoreksi. Mekanisme pasar ini sering kali membuat konsumen merasa harga BBM tidak mencerminkan kondisi pasar minyak global yang sebenarnya.
Menurut Sheana Yue, ekonom senior dari Oxford Economics, kenaikan harga minyak mentah yang tajam memaksa peritel untuk segera menyesuaikan harga guna menutupi biaya inventaris yang lebih tinggi. Sebaliknya, saat harga minyak turun, peritel cenderung bersikap konservatif. Mereka menunggu untuk memastikan apakah tren penurunan tersebut bersifat permanen atau hanya sementara sebelum memutuskan untuk menurunkan harga di SPBU.
Dr. David Broadstock, mitra di konsultan energi The Lantau Group, menambahkan bahwa peritel saat ini telah memasukkan faktor ketidakpastian ke dalam struktur harga mereka. Mereka menetapkan harga pada titik yang dianggap mampu mengakomodasi risiko yang berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menjaga margin keuntungan yang adil sambil mengantisipasi fluktuasi harga minyak mentah di masa depan yang masih sulit diprediksi secara jangka panjang.
Kondisi ini menegaskan bahwa penentuan harga BBM tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah global saja. Faktor operasional, biaya logistik, serta strategi manajemen risiko dari para peritel memainkan peran krusial dalam menentukan berapa banyak yang harus dibayar konsumen di pompa bensin. Oleh karena itu, penurunan harga minyak mentah dunia tidak akan otomatis diikuti oleh penurunan harga di tingkat konsumen dalam waktu dekat.