Bisnis & Startup

Harga Minyak Melesat, Bursa Asia Tertekan Imbas Kebuntuan AS-Iran

Ringkasan

  • Harga minyak mentah naik ke level tertinggi sejak pekan lalu imbas kebuntuan negosiasi AS-Iran terkait Selat Hormuz, sementara bursa Asia bergerak mixed di tengah ketidakpastian inflasi global.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Selasa (11/8) setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu. Kondisi ini langsung mengguncang pasar keuangan Asia yang masih diliputi ketidakpastian soal inflasi global.

Brent crude futures naik ke level US$88 per barel, sementara US crude futures menyentuh US$82,45. Keduanya merupakan level tertinggi sejak 31 Juli, setelah pada Senin kontrak minyak menguat sekitar 5 persen. Eskalasi retorika antara kedua negara itu memicu kekhawatiran pasokan di salah satu jalur pelayaran minyak paling sibuk di dunia.

Presiden AS Donald Trump merespons syarat-syarat yang diajukan Iran untuk kesepakatan damai dengan tuntutannya sendiri. Ia meminta Iran membayar kompensasi atas kematian warga sipil dalam perang, serangan, dan protes. Sikap ini justru mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar seperlima konsumsi minyak global.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menggambarkan situasi saat ini sebagai kebuntuan ala koboi klasik. "Kita sekarang berada dalam situasi saling menunggu siapa yang lebih dulu mengalah," ujarnya. Ia memperkirakan pasar minyak akan berkisar di rentang US$75 hingga US$95 per barel selama ketegangan ini berlanjut.

Kenaikan harga bahan bakar ini menjadi ujian bagi data inflasi AS yang akan dirilis Rabu (12/8). Ekonom memperkirakan inflasi headline naik 0,1 persen secara bulanan, sementara inflasi inti naik 0,2 persen. Kejutan positif dari data ini bisa menghidupkan kembali spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan depan.

Jonas Goltermann, Kepala Ekonom Pasar di Capital Economics, menilai risiko data inflasi cenderung lebih tinggi dari perkiraan. "Kita bisa melihat rebound ekspektasi suku bunga dan potensi kekhawatiran baru tentang stagflasi," kata Goltermann. Ia menambahkan bahwa ekonomi AS berjalan lebih panas dari kondisi ideal, yang mengarah pada suku bunga yang lebih tinggi.

Di kawasan Asia, indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang bergerak fluktuatif dan terakhir naik 0,2 persen. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,3 persen, namun sentimen pasar tetap rapuh akibat eskalasi ketegangan di Teluk. Sementara itu, futures Nasdaq naik 0,28 persen dan S&P 500 naik 0,1 persen setelah Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin.

Bagi Indonesia, gejolak harga minyak ini memiliki dampak langsung yang signifikan. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap kenaikan harga minyak mentah akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Harga minyak yang tinggi juga berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang pada akhirnya mendorong inflasi.

Tekanan inflasi ini berisiko memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Padahal, pasar saat ini tengah menantikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini menciptakan dilema bagi otoritas moneter dalam menyeimbangkan stabilitas harga dan pertumbuhan.

Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali menjadi sorotan setelah melemah ke level 159 per dolar AS. Angka ini jauh dari posisi terkuatnya di 155,20 pekan lalu setelah beberapa kali dugaan intervensi, termasuk intervensi bersama AS dan Jepang. Namun, analis Nomura menilai pasar masih waspada terhadap intervensi lanjutan, sehingga tembusnya level 160 dalam waktu dekat dianggap sulit.

Dolar AS mendapat dorongan marginal dari kenaikan harga minyak, membuat euro menjauh dari level tertinggi 1,5 bulan dan berada di US$1,1546. Sementara itu, harga emas spot naik 0,5 persen ke US$4.409,81 per ons, mencerminkan permintaan aset aman yang masih kuat di tengah ketidakpastian global.

Kebuntuan AS-Iran diperkirakan akan terus mendominasi pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan. Ketegangan geopolitik yang berlarut-larut ini menciptakan ketidakpastian yang sulit diprediksi. Investor global, termasuk di Indonesia, disarankan mencermati perkembangan negosiasi dan data inflasi AS sebagai penentu arah kebijakan moneter global.

Di sisi lain, pengumuman Nvidia tentang kemitraan dengan enam lembaga keuangan besar untuk menggalang dana lebih dari US$500 miliar bagi infrastruktur AI menunjukkan geliat investasi yang masih kuat di sektor teknologi. Namun, sebagian analis mengingatkan kemiripan pola ini dengan inovasi subprime mortgage yang memicu krisis keuangan global 2008.

Mengapa Ini Penting

Kenaikan harga minyak akibat kebuntuan AS-Iran memiliki dampak berlapis bagi Indonesia. Pertama, sebagai net importir minyak, setiap kenaikan harga akan langsung menekan APBN dan berpotensi memicu kenaikan harga BBM bersubsidi yang berujung pada inflasi. Kedua, ketidakpastian ini memperkuat tekanan pada nilai tukar rupiah dan memaksa Bank Indonesia menahan suku bunga lebih lama, menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketiga, makin tingginya biaya energi akan memperlambat pemulihan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah bawah. Dalam lanskap global, situasi ini mengingatkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor minyak menciptakan kerentanan struktural. Diversifikasi energi dan penguatan ketahanan pangan menjadi agenda yang semakin mendesak, bukan sekadar wacana.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit