Internasional

Harga Minyak Stabil Pasca Kesepakatan AS dan Iran untuk Hentikan Serangan

Harga Minyak Stabil Pasca Kesepakatan AS dan Iran untuk Hentikan Serangan

Ringkasan

  • Harga minyak dunia stabil setelah AS dan Iran sepakat menghentikan permusuhan di Teluk, meski produksi dan pengiriman minyak tetap berjalan.

Harga minyak dunia terpantau stabil pada perdagangan Senin (29/6) setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangkaian permusuhan di wilayah Teluk. Langkah diplomatik ini diambil di tengah upaya produsen minyak Timur Tengah untuk tetap melanjutkan operasional pengiriman minyak mentah serta gas alam cair (LNG), meskipun sempat terjadi insiden serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan tersebut.

Kedua negara dikabarkan sepakat untuk membuka kembali dialog terkait Selat Hormuz. Langkah ini memberikan harapan baru bagi keberlangsungan kesepakatan damai sementara yang sebelumnya terancam oleh serangkaian serangan balasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pasar merespons positif upaya deeskalasi ini meskipun ketegangan geopolitik masih membayangi prospek pasokan energi global.

Hingga pukul 08.03 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik tipis 4 sen menjadi 72,03 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat mencatatkan kenaikan sebesar 44 sen atau sekitar 0,6 persen, bertengger di level 69,67 dolar AS per barel. Pergerakan ini menunjukkan optimisme investor terhadap stabilitas pasokan di tengah situasi yang sempat memanas.

Analis dari ING menyoroti bahwa pasar minyak masih menghadapi berbagai risiko signifikan. Namun, para pelaku pasar saat ini cenderung lebih fokus pada dampak pemulihan arus minyak terhadap keseimbangan global. Para analis memperingatkan bahwa sikap tenang pasar saat ini cukup mengejutkan dan dapat memicu lonjakan harga jika pemulihan pasokan berjalan lebih lambat dari perkiraan semula.

Sebelumnya, minyak mentah Brent sempat mengalami penurunan sebesar 10,6 persen sepanjang minggu lalu, menandai penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang mencapai level tertinggi sejak konflik antara AS-Israel dan Iran dimulai pada akhir Februari lalu. Data pengiriman menunjukkan bahwa produsen Timur Tengah terus memprioritaskan logistik energi mereka.

Di sisi lain, raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, telah melanjutkan aktivitas pemuatan minyak mentah di terminal Ras Tanura, sebelah barat Selat Hormuz, sejak Jumat lalu setelah sempat terhenti selama hampir empat bulan. Aktivitas ini tetap berjalan meski sempat terjadi insiden kecelakaan helikopter milik perusahaan pada hari Minggu di lokasi yang sama, yang menewaskan 14 orang. Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan tersebut masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

Mengapa Ini Penting

Stabilitas harga minyak global sangat krusial bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, karena fluktuasi harga di Selat Hormuz berdampak langsung pada biaya subsidi energi dan inflasi domestik. Bagi pelaku industri di Indonesia, pemantauan terhadap jalur logistik di Timur Tengah penting untuk memitigasi risiko disrupsi rantai pasok energi nasional.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
29 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit