Internasional

Hezbollah Tuntut Penarikan Penuh Pasukan Israel dari Lebanon Tanpa Syarat

Hezbollah Tuntut Penarikan Penuh Pasukan Israel dari Lebanon Tanpa Syarat

Ringkasan

  • Pemimpin Hezbollah Naim Qassem menuntut penarikan total pasukan Israel dari Lebanon tanpa syarat di tengah perpanjangan negosiasi gencatan senjata yang dimediasi AS.

Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, secara tegas menuntut agar Israel segera menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon tanpa syarat apa pun. Pernyataan keras ini disampaikan Qassem dalam pidato televisi yang bertepatan dengan peringatan hari suci Asyura, di tengah berlangsungnya negosiasi gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat di Washington.

Qassem menegaskan bahwa pihaknya menolak segala bentuk normalisasi hubungan dengan Israel serta tidak akan memberikan keuntungan politik apa pun kepada pihak Israel dalam proses perdamaian ini. Menurutnya, Israel tidak memiliki pilihan lain selain angkat kaki sepenuhnya dari setiap jengkal tanah Lebanon yang saat ini masih diduduki oleh pasukan mereka.

Ketegangan ini terus berlanjut meskipun terdapat upaya perpanjangan putaran negosiasi yang melibatkan perwakilan Lebanon dan Israel. Di lapangan, situasi keamanan tetap tidak menentu. Meskipun intensitas serangan dilaporkan menurun sejak gencatan senjata terbaru disepakati pekan lalu, berbagai aksi militer Israel masih dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di Lebanon selatan.

Laporan terbaru menunjukkan adanya serangan udara Israel di kota Nabatieh al-Fawqa, serta serangan yang menewaskan dua orang di kota Mayfadoun. Selain itu, militer Israel dilaporkan menyebarkan selebaran di kota Mansouri yang memerintahkan penduduk setempat untuk segera mengevakuasi diri, yang menandakan bahwa operasi militer di lapangan masih tetap aktif meskipun perundingan diplomatik sedang berjalan.

Di sisi lain, posisi Israel dalam negosiasi ini tampak masih bersikeras untuk mengaitkan penarikan pasukan dengan pelucutan senjata total kelompok Hezbollah. Hal ini menciptakan kebuntuan dalam perundingan, di mana pemerintah Israel menyatakan akan tetap berada di Lebanon, Suriah, dan Gaza selama durasi yang dianggap perlu demi alasan keamanan nasional mereka.

Sementara itu, perwakilan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengklaim adanya langkah konkret yang diambil Israel dengan menarik diri dari sebagian zona penyangga di Lebanon selatan. Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak militer Lebanon yang menyatakan bahwa penarikan yang dimaksud belum terealisasi. Perdebatan ini terus mewarnai dinamika perundingan yang kini telah memasuki putaran kelima.

Mengapa Ini Penting

Konflik berkepanjangan di Lebanon berdampak signifikan pada stabilitas geopolitik global yang sering memicu fluktuasi harga energi dan komoditas di pasar internasional. Bagi Indonesia, ketegangan ini menuntut kewaspadaan diplomatik tinggi untuk melindungi warga negara di luar negeri serta mengantisipasi dampak ekonomi makro akibat ketidakpastian keamanan di kawasan Timur Tengah.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
26 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit