Internasional

Houthi Ancam Bombardir Fasilitas Minyak Saudi, Dampak ke RI

Ringkasan

  • Pemimpin Houthi Abdul Malik Al Houth mengancam menyerang fasilitas minyak Saudi jika Riyadh terus menggempur Yaman, setelah Saudi melancarkan serangan udara ke bandara Sana'a dan serangan balasan ke Abha.

Pemimpin Houthi Abdul Malik Al Houth mengancam akan membombardir fasilitas minyak Arab Saudi jika Riyadh terus menggempur Yaman. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi, di mana ia memperingatkan, "Semua fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital akan menjadi sasaran rudal dan drone kami jika Riyadh terus melanjutkan serangan." Ancaman tersebut muncul setelah Saudi dilaporkan melancarkan serangan ke bandara Sana'a di Yaman.

Menurut laporan Axios, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) meminta dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan lebih luas di Yaman, dan pemerintahan Trump memberikan lampu hijau. Sebagai balasan, Houthi meluncurkan rudal ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi bagian selatan. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan itu sebagai respons terhadap "agresi kriminal Saudi" dan menyatakan bahwa hal ini membuat perjanjian gencatan senjata informal pada Maret 2022 menjadi tidak berlaku.

Konflik antara Saudi dan Houthi berakar pada intervensi militer Saudi yang dimulai pada 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional melawan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menciptakan krisis kemanusiaan besar. Saudi, sebagai negara pengekspor minyak terbesar dunia, sering menjadikan posisi Houthi sebagai target serangan udara, termasuk infrastruktur minyak yang dianggap strategis. Fasilitas minyak Saudi menyumbang sekitar 10 juta barel per hari, dengan sebagian besar diekspor, sehingga setiap gangguan dapat mengacaukan pasar energi global.

Bagi Indonesia, yang mengimpor sekitar 30% kebutuhan crude-nya, gejolak di pasar minyak dapat berdampak langsung. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan subsidi bahan bakar dalam negeri hingga 15%, sehingga memberi tekanan pada anggaran negara. Nilai rupiah juga terpengaruh; mata uang ini melemah 0,8% setelah ancaman Houthi diumumkan, menunjukkan sensitivitas ekonomi terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Analis energi dari Center for Energy and Development Studies di Jakarta menyatakan, "Pasar akan langsung bereaksi terhadap ketidakpastian. Serangan terbatas pada fasilitas pemrosesan minyak di Saudi dapat memicu lonjakan harga sementara yang bertahan selama berminggu-minggu." Hal ini dapat berdampak pada konsumen Indonesia melalui kenaikan harga BBM dan tarif listrik.

Dari sisi geopolitik, konflik ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara AS, Israel, dan Iran. Houthi, yang sering disebut sebagai proksi Iran, mungkin memanfaatkan dinamika regional ini untuk menekan Saudi dan sekutunya. Dukungan AS terhadap operasi Saudi, seperti yang dilaporkan dari pemerintahan Trump, menambah lapisan strategis baru pada konfrontasi ini.

Reaksi domestik di Indonesia muncul dari kalangan oposisi yang menyerukan percepatan transisi ke energi yang lebih bersih dan diversifikasi sumber pasokan minyak. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) mendesak pemerintah untuk mempercepat proyek gas shale domestik dan mencari mitra impor alternatif guna mengurangi ketergantungan pada minyak Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Abdul Malik Al Houth menegaskan kembali ancamannya, "Semua fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital akan menjadi sasaran rudal dan drone kami jika Riyadh terus melanjutkan serangan." Ia menambahkan, "Rumusnya jelas: bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, blokade untuk blokade."

Ke depan, para analis memperkirakan pasar akan terus waspada hingga ada solusi diplomatik yang konkret. Jika gencatan senjata informal Maret 2022 dapat direvitalisasi, risiko eskalasi serangan mungkin berkurang. Namun, akar politik dari konflik Saudi‑Yaman tetap belum terselesaikan, sehingga keamanan energi Indonesia akan terus bergantung pada bagaimana dinamika di Semenanjung Arab berkembang.

Mengapa Ini Penting

Ketegangan di Timur Tengah yang mengancam fasilitas minyak Saudi dapat memicu kenaikan harga minyak global, berdampak pada subsidi bahan bakar dan nilai rupiah Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa terhubungnya keamanan energi Indonesia dengan dinamika geopolitik jauh di luar negeri. Selain itu, peristiwa ini mendorong perdebatan domestik tentang diversifikasi energi dan percepatan penggunaan sumber daya lokal untuk mengurangi risiko dari guncangan eksternal. Dampak jangka panjangnya dapat membentuk kebijakan energi Indonesia, mendorong investasi lebih besar pada energi terbarukan dan gas domestik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit