Internasional

Hujan Lebat di Chile Tewaskan 3 Orang, Ratusan Mengungsi

Ringkasan

  • Hujan deras di Chile Jumat ini tewaskan 3 orang dan mengungsikan ratusan warga serta Presiden Kast tinjau Biobio.

Presiden Chile Jose Antonio Kast memastikan sedikitnya tiga orang tewas dan ratusan warga mengungsi akibat hujan deras serta angin kencang yang melanda wilayah tengah dan selatan negara itu pada Jumat pekan ini. Bencana hidrometeorologi tersebut memaksa Kast meninjau langsung lokasi terdampak di region Biobio yang menjadi salah satu episentrum banjir.

Kast mengunjungi Biobio setelah badan penanggulangan bencana nasional, SENAPRED, melaporkan 466 orang masih bertahan di shelter darurat, sebagian di antaranya dievakuasi secara preventif. Sebanyak 158 warga lain terisolasi karena naiknya permukaan air, mayoritas berada di region Coquimbo. Kepala SENAPRED Alicia Cebrian mencatat tujuh korban luka-luka akibat kejadian tersebut.

Chile termasuk negara Amerika Selatan yang memiliki topografi rawan bencana karena bentang pegunungan Andes dan garis pantai Pasifik yang panjang. Pola cuaca ekstrem di negara tersebut kerap dipicu oleh fenomena La Nina dan El Nino yang memengaruhi curah hujan tahunan. Musim dingin belahan selatan saat ini memperparah intensitas hujan dan angin di lintas region.

Sistem peringatan dini Chile terbilang matang dibanding negara berkembang lainnya di kawasan. SENAPRED beroperasi dengan koordinasi antar kementerian serta pemerintah daerah yang memungkinkan evakuasi preventif sebelum air masuk permukiman. Namun, infrastruktur lokal di area pedesaan tetap kewalahan saat debit sungai meluap dalam waktu singkat.

Dampak banjir meluas ke sektor ekonomi dan layanan publik. Codelco, perusahaan tambang milik negara, menghentikan operasi permukaan di tambang Andina karena badai. Sekitar 257.000 rumah di selatan Chile masih gelap tanpa pasokan listrik. Sejumlah sekolah juga menghentikan kegiatan belajar mengajar pada Jumat untuk menghindari risiko bagi siswa.

Bagi Indonesia, peristiwa di Chile menyoroti pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi yang kian intensif akibat perubahan iklim. BNPB mencatat banjir dan longsor mendominasi bencana nasional setiap musim hujan, dengan sistem peringatan yang belum merata di daerah terpencil. Pengalaman Chile dalam evakuasi preventif layak dijadikan referensi untuk penguatan desa tangguh bencana di Tanah Air.

Korban jiwa pertama adalah pekerja yang sedang membersihkan jalan di Negrete, wilayah selatan. Korban kedua jatuh saat membersihkan atap rumah di Temuco. Korban ketiga meninggal karena sengatan listrik di ibu kota Santiago. Ketiga insiden menunjukkan bahaya sekunder banjir yang sering diabaikan warga saat berupaya menyelamatkan aset pribadi.

Kast yang dilantik pada Maret lalu baru enam bulan memimpin negara. Pemimpin sayap kanan ini menang pemilu 2025 dengan platform anti-kriminalitas keras. Ia berjanji memberikan dukungan kelembagaan bagi warga terdampak banjir meski fokus awal pemerintahannya bukan pada isu iklim.

“Jalanan banyak diguyur hujan, tapi masih bisa dilalui,” tulis Kast di media sosial saat dalam perjalanan menuju Biobio. “Harap hati-hati.” Unggahan tersebut menunjukkan gaya komunikasi langsung kepala negara kepada publik di tengah krisis.

SENAPRED menerbitkan perintah evakuasi untuk area Campamento Ribera del Rio dekat Talagante karena level sungai naik. Hujan lebat diprakirakan berlanjut di zona tengah negara pada Jumat malam, memperbesar tekanan pada shelter yang sudah penuh pengungsi.

Ke depan, pemerintah Chile akan memprioritaskan pemulihan kelistrikan dan operasional tambang guna menjaga stabilitas ekonomi. Kast diperkirakan meminta tambahan anggaran darurat dari kongres mengingat kerusakan infrastruktur meluas. Masyarakat di daerah aliran sungai diminta tetap siaga selama pola cuaca ekstrem belum mereda.

Penguatan sistem drainase dan relokasi permukiman rawan banjir bakal menjadi agenda jangka panjang. Chile sendiri mulai menanamkan investasi pada infrastruktur hijau sejak bencana besar 2015 silam. Tren serupa terlihat di berbagai negara Amerika Latin yang beradaptasi dengan iklim tidak menentu.

Mengapa Ini Penting

Bencana di Chile mengingatkan Indonesia bahwa ancaman hidrometeorologi tidak mengenal musim atau benua, sehingga penguatan sistem peringatan dini harus merata hingga desa. Model evakuasi preventif SENAPRED layak diadaptasi BNPB untuk menekan korban jiwa saat banjir bandang. Gangguan operasi tambang Codelco juga berdampak pada harga tembaga global yang berimbas pada industri manufaktur dan infrastruktur Indonesia. Pengalaman kepemimpinan Kast di awal masa jabatan menunjukkan urgensi kesiapsiagaan bencana bagi setiap pemerintahan baru.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit