Internasional

IAEA Desak Akses Segera ke Fasilitas Nuklir Iran

IAEA Desak Akses Segera ke Fasilitas Nuklir Iran

Ringkasan

  • Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mendesak akses ke fasilitas nuklir Iran dalam beberapa pekan ke depan untuk melakukan verifikasi stok uranium setelah terjadinya konflik.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan harapan optimisnya agar lembaganya dapat segera memperoleh akses ke fasilitas nuklir Iran dalam beberapa pekan mendatang. Pernyataan ini disampaikan menyusul tenggat waktu yang semakin mendesak terkait Nota Kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya oleh pihak-pihak terkait, yang memberikan durasi 60 hari untuk mencapai kesepakatan komprehensif.

Dalam keterangannya kepada kantor berita RIA Novosti, Grossi menekankan bahwa nota kesepahaman tersebut tidak hanya mencakup isu nuklir semata, melainkan juga menyentuh aspek geopolitik krusial lainnya. Hal ini termasuk jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta isu integritas wilayah yang berkaitan dengan gencatan senjata, yang menambah kompleksitas dalam negosiasi diplomatik yang sedang berlangsung.

Grossi menjelaskan bahwa meskipun terdapat tantangan yang cukup rumit dalam proses perundingan, tenggat waktu dua bulan yang telah ditetapkan tetap menjadi acuan utama bagi IAEA. Ia berharap kesepakatan final dapat segera tercapai agar proses verifikasi lapangan yang sangat krusial, termasuk inspeksi langsung ke fasilitas-fasilitas nuklir, dapat segera dimulai sesuai dengan protokol keamanan internasional.

Terkait kondisi material nuklir, IAEA meyakini bahwa stok uranium yang telah diperkaya masih tersimpan di dalam fasilitas milik Iran. Namun, keyakinan tersebut perlu divalidasi secara fisik melalui pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan integritas dan kuantitas material tetap terjaga sebagaimana mestinya sesuai dengan standar pengawasan badan energi atom dunia tersebut.

Penilaian IAEA saat ini masih bertumpu pada data hasil inspeksi rutin terakhir yang dilakukan sebelum pecahnya konflik bersenjata yang dikenal sebagai perang 12 hari. Meskipun pemantauan melalui citra satelit dan metode pengawasan jarak jauh lainnya terus dilakukan secara intensif, Grossi mengakui bahwa akses menuju lokasi-lokasi strategis tersebut sempat terhambat akibat kerusakan parah yang dialami fasilitas akibat konflik.

Hingga saat ini, pihak IAEA terus memantau situasi di lapangan secara ketat. Grossi menegaskan bahwa meskipun tidak ditemukan indikasi pergerakan material dalam skala besar melalui pemantauan jarak jauh, kehadiran fisik inspektur IAEA di lokasi tetap mutlak diperlukan untuk menjamin transparansi penuh dan memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang menyimpang dari kesepakatan internasional yang telah disetujui bersama.

Mengapa Ini Penting

Stabilitas nuklir di Timur Tengah memiliki implikasi langsung terhadap harga energi global dan keamanan maritim yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Pemantauan ketat oleh IAEA sangat krusial bagi komunitas internasional untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat mengganggu rantai pasok energi global.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit