Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Rabu sore dengan penguatan terbatas. Level penutupan berada di 6.041,97, naik 2,45 poin atau setara 0,04 persen dari posisi sebelumnya.
Indeks LQ45 yang menangkum 45 saham unggulan juga bergerak positif, ditutup menguat 1,01 poin atau 0,17 persen ke posisi 599,90. Sepanjang sesi, IHSG sudah berada di teritori hijau sejak pembukaan dan bertahan hingga penutupan, mencerminkan sentimen beli yang relatif stabil di kalangan investor lokal maupun asing.
Katalis utama datang dari luar negeri. Data inflasi tahunan Amerika Serikat untuk Juni tercatat sebesar 3,5 persen, turun dari 4,2 persen pada Mei dan berada di bawah konsensus ekonom yang memproyeksikan 3,8 persen. Pelandaian tersebut langsung meredam spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan segera menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
Ketua The Fed Kevin Warsh dalam kesaksian di Kongres menegaskan komitmen menjaga stabilitas harga, namun tidak mengeluarkan sinyal pengetatan baru. Pernyataan itu memberi ruang bagi pelaku pasar untuk bernapas lega, meski ekspektasi masih mencatat peluang 50 persen kenaikan suku bunga pada September 2026.
Penyebab ketidakpastian itu bukan tanpa alasan. Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat, memicu kenaikan harga minyak dunia. Gejolak komoditas energi tersebut berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga bank sentral negeri Paman Sam masih harus waspada.
Di dalam negeri, pemerintah memberikan angin segar melalui pernyataan tidak akan menaikkan tarif pajak. Kebijakan ini diarahkan untuk melindungi daya saing perusahaan dan mengurangi beban fiskal dunia usaha di tengah pemulihan ekonomi.
Alih-alih mengerek tarif, otoritas fiskal memilih memperluas basis pajak melalui peningkatan kepatuhan dan digitalisasi administrasi. Pendekatan ini dinilai lebih mendukung pertumbuhan sektor produktif, termasuk ekosistem startup dan perusahaan teknologi yang selama ini kerap terbebani oleh prosedur perpajakan konvensional.
Pergerakan sektoral di BEI memperlihatkan enam dari sebelas sektor menguat. Sektor barang baku memimpin dengan kenaikan 0,67 persen, disusul properti yang naik 0,64 persen dan transportasi serta logistik 0,32 persen. Sementara itu, lima sektor melemah, dengan kesehatan turun paling dalam 0,60 persen.
"IHSG dan bursa regional Asia bergerak menguat, rilis data inflasi Amerika Serikat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed," ucap Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta. Analis itu menilai data makroekonomi global masih menjadi pengendali arus masuk modal ke pasar emerging market.
Saham-saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah mendominasi daftar top gainers, yakni INAI, RANS, PRDL, AGAR, dan GDST. Di sisi berlawanan, COCO, SKBM, CASA, SQMI, dan RUNS mengalami tekanan jual terbesar. Total nilai transaksi mencapai Rp11,33 triliun dari 21,78 miliar lembar saham yang berpindah tangan.
Bursa regional Asia mayoritas menghijau. Nikkei Jepang naik 1,49 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 1,40 persen, Kospi Korea Selatan melesat 6,24 persen, dan Strait Times Singapura tumbuh 1,09 persen. Hanya indeks Shanghai yang melemah 0,29 persen, menunjukkan divergensi sentimen di kawasan.
Menyongsong akhir pekan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik Timur Tengah dan respons The Fed berikutnya. Stabilitas kebijakan pajak domestik diprediksi menjaga konsumsi dan investasi, namun volatilitas harga minyak tetap menjadi variabel pengganggu bagi indeks saham lokal.