Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak sideways atau mendatar pada perdagangan Kamis (16/7/2026), seiring tumpang tindihnya sentimen dari pasar global dan dalam negeri. Kondisi ini muncul setelah bursa domestik dibuka menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke level 6.068, disertai penguatan indeks LQ45 sebesar 2,61 poin ke posisi 601,50.
Pergerakan datar tersebut bukan sekadar jeda teknis. Analis menilai pasar sedang mencerna sejumlah data ekonomi luar negeri yang memengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral, di tengah ketidakpastian geopolitik yang kembali mencuat. Di sisi lain, kebijakan fiskal dan moneter dalam negeri turut memberi warna tersendiri bagi preferensi risiko investor.
Dari Amerika Serikat, data Producer Price Index (PPI) Juni 2026 menunjukkan perlambatan. Headline PPI tercatat 0,3 persen month to month dan 5,5 persen year on year, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Core PPI berada di 0,2 persen mtm dan 4,7 persen yoy. Angka itu memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Implikasinya, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Juli 2026 susut menjadi sekitar 10 persen. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh memberi catatan lain: perkembangan kecerdasan buatan berpotensi mengerek permintaan dan harga komponen teknologi, terutama chip. Hal itu bisa menekan inflasi dari sisi penawaran dalam beberapa kuartal ke depan.
Pernyataan Warsh mengubah cara pasar membaca arah moneter. AI kini tak lagi dipandang sekadar tema investasi, melainkan variabel dalam pertimbangan inflasi dan suku bunga. Di saat yang sama, eskalasi militer AS terhadap Iran menambah premi risiko geopolitik. Ancaman perluasan aksi oleh Presiden AS Donald Trump membuat harga minyak kembali naik.
Kondisi regional pagi ini beragam. Nikkei melemah 2,69 persen, Shanghai turun 0,52 persen, sementara Hang Seng menguat 1,67 persen. Wall Street semalam variatif: S&P 500 naik 0,38 persen, Dow Jones bertambah 0,29 persen, namun Nasdaq terkoreksi 0,28 persen. Eropa juga tak seragam, dengan DAX Jerman turun 0,59 persen dan CAC 40 Prancis menguat 0,19 persen.
Di dalam negeri, pemerintah menyiapkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai langkah strategis menarik arus modal global. Insentif meliputi tarif pajak 0 persen hingga 50 tahun, kepastian hukum, dan penyederhanaan regulasi. Kebijakan ini dirancang untuk menyaingi Singapura, Dubai, dan Labuan sekaligus memulangkan dana lewat SPV luar negeri.
PFII akan memfasilitasi investment bank, asuransi, dana pensiun, dan lembaga jasa keuangan lain. Langkah ini diharapkan memperdalam pasar keuangan domestik. Namun, ada catatan lain dari sisi obligasi: porsi SBN di Bank Indonesia naik ke 27,41 persen per 10 Juli 2026, dari 22,61 persen akhir 2025.
Kepemilikan perbankan dan asing justru menyusut. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai pergeseran itu menunjukkan peran BI makin besar menjaga stabilitas pasar obligasi. "Meski mampu meredam volatilitas, kondisi itu juga mencerminkan meningkatnya ketergantungan pembiayaan pemerintah terhadap bank sentral," ujar Liza, merujuk yield SBN tenor 10 tahun yang bertahan di 7,28 persen.
Liza menyarankan investor mengikuti tren dengan trailing stop guna mengamankan profit. Penambahan posisi secara bertahap bisa dilakukan bila IHSG stabil di atas 5.987 dan lanjut menguat ke resistance 6.121–6.171. "Investor kini mengalihkan fokus pada musim laporan keuangan kuartal II, di mana kinerja emiten teknologi dan AI diperkirakan menjadi penentu arah pasar," katanya.
Menjelang akhir pekan, pelaku pasar akan menantikan rilis kinerja kuartalan. Emiten dengan paparan AI dan teknologi diprediksi jadi penggerak utama. Jika laporan di bawah ekspektasi, IHSG berisiko tertekan meski sentimen makro cenderung mendukung.
Di sisi kebijakan, PFII dan komposisi kepemilikan SBN akan terus diawasi. Keduanya mencerminkan arah struktur pasar modal dan ketahanan fiskal Indonesia. Kombinasi sentimen itu membuat pergerakan datar hari ini bukan akhir, melainkan awal dari fase konsolidasi yang lebih panjang.
Bagi Indonesia, tren AI global membuka peluang sekaligus risiko. Beberapa startup lokal mulai mengadopsi infrastruktur cloud berbasis AI, namun ketergantungan pada chip impor membuat biaya operasi rentan terhadap gejolak harga akibat kebijakan moneter AS. PFII dapat jadi pintu masuk pendanaan bagi perusahaan teknologi domestik, asalkan regulasi benar-benar dieksekusi tanpa hambatan birokrasi.