Singapura kembali melakukan penyesuaian kebijakan terkait penggunaan dialek dalam media film. Otoritas Pengembangan Media Infokom (IMDA) secara resmi menyetujui penambahan 100 jadwal penayangan untuk film 'Dear You' dalam versi bahasa Teochew. Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya antusiasme penonton terhadap versi asli film tersebut di bioskop-bioskop lokal.
Dengan tambahan ini, total penayangan versi Teochew dari film 'Dear You' kini mencapai 272 sesi. Pemerintah Singapura menyatakan kesiapannya untuk memberikan izin penayangan lebih lanjut apabila pihak distributor mengajukan permohonan tambahan di masa mendatang, mengingat permintaan pasar yang terus meningkat terhadap konten berbahasa dialek.
Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Negara Senior untuk Pengembangan Digital dan Informasi, Tan Kiat How, dalam sesi tanya jawab di Parlemen. Ia menanggapi berbagai pertanyaan dari anggota parlemen mengenai pedoman IMDA yang sebelumnya cenderung membatasi penggunaan dialek di media arus utama, termasuk alasan di balik prioritas penayangan versi sulih suara bahasa Mandarin.
Tan Kiat How mengakui bahwa lanskap bahasa di Singapura telah mengalami perubahan signifikan sejak pedoman penggunaan dialek pertama kali diperkenalkan. Oleh karena itu, pemerintah kini tengah meninjau kembali kerangka kerja klasifikasi film nasional. Tujuannya adalah mencari keseimbangan antara melestarikan bahasa Mandarin sebagai bahasa utama dengan memberikan ruang yang lebih luas bagi dialek Tionghoa lainnya.
Pemerintah menegaskan bahwa meskipun bahasa Mandarin akan tetap dipertahankan sebagai bahasa utama dalam siaran televisi dan radio nasional, pendekatan yang lebih fleksibel akan diterapkan di sektor bioskop. Hal ini bertujuan untuk memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat dalam menikmati konten budaya dan seni yang otentik dalam bahasa dialek.
Dalam beberapa tahun terakhir, IMDA sebenarnya telah menunjukkan fleksibilitas dalam implementasi aturan. Sekitar 30 hingga 40 film berbahasa dialek telah ditayangkan di berbagai festival film setiap tahunnya. Selain itu, beberapa film populer yang menggunakan dialek secara signifikan, seperti '881' dan 'Wonderland', telah diizinkan untuk tayang tanpa batasan ketat, menandakan pergeseran kebijakan yang lebih akomodatif terhadap keberagaman linguistik di Singapura.