Jakarta menjadi saksi lahirnya babak baru dalam kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Singapura. Pada Selasa, 14 Juli 2026, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bersama counterpart-nya dari Singapura, Chan Chun Sing, meresmikan Indonesia-Singapore (INDOSIN) Defence Alumni Initiative.
Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan arahan inisiatif dan pengungkapan logo resmi oleh kedua menteri di ibu kota Indonesia. Langkah ini dirancang untuk mempertemukan generasi perwira militer dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Singapore Armed Forces (SAF) yang pernah mengikuti kursus serta pelatihan di negara masing-masing.
Secara mendasar, ide penyatuan alumni pertahanan ini bukan sekadar seremoni diplomatik biasa. Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) mencatat bahwa jaringan ini akan mempertahankan ikatan profesional dan personal para perwira meski mereka sudah pensiun dari dinas aktif. Inisiatif ini diberi nama Persahabatan Alumni Pertahanan, atau disingkat PERSAHAN, yang merupakan gabungan dari kata persahabatan dan alumni pertahanan dalam bahasa Indonesia.
Dalam struktur organisasi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata dari kedua negara akan bertindak sebagai ko-presiden PERSAHAN. Mereka bertugas mengarahkan rencana serta aktivitas organisasi ini. Struktur kepemimpinan ini memungkinkan perekrutan perwira SAF dan TNI lainnya yang dinilai memberikan kontribusi signifikan bagi relasi bilateral kedua angkatan bersenjata.
Selain perwira aktif, keanggotaan PERSAHAN juga mencakup atase pertahanan Indonesia dan Singapura yang sedang bertugas maupun yang telah purna tugas. Upacara peluncuran dihadiri oleh perwira SAF dan TNI dari angkatan-angkatan sebelumnya, bukti nyata dari ikatan personal yang telah dibangun selama beberapa dekade terakhir.
Di sisi lain, bagi Indonesia, kehadiran PERSAHAN memberikan instrumen strategis untuk memastikan keberlanjutan hubungan pertahanan dengan tetangga terdekatnya di selatan. Diplomasi pertahanan melalui jalur alumni sering kali lebih efektif karena memanfaatkan kedekatan personal yang terbangun sejak masa pelatihan.
Di tengah dinamika geopolitik Asia Tenggara yang semakin kompleks, jaringan seperti ini menjadi penyangga stabilitas regional. Perwira yang telah mengenal rekan sejawatnya secara mendalam cenderung lebih mudah berkoordinasi saat terjadi krisis atau latihan bersama. Masyarakat Indonesia secara tidak langsung turut merasakan dampaknya melalui terjaganya stabilitas keamanan di perbatasan dan Selat Malaka.
Kolaborasi semacam ini juga selaras dengan upaya modernisasi TNI yang terus membuka kerja sama pelatihan internasional. Pengalaman perwira Indonesia di berbagai kursus di luar negeri, termasuk di Singapura, menjadi modal sosial yang kini dikelola secara terstruktur melalui PERSAHAN.
Menyikapi peluncuran tersebut, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Indonesia, Jenderal Agus Subiyanto, menyambut baik inisiatif ini sebagai pencapaian baru dalam relasi pertahanan kedua negara. Ia menegaskan rasa hormatnya bisa hadir dalam acara yang akan memperkuat relasi individu maupun kelembagaan antara TNI dan SAF di masa depan.
Dalam pertemuan bilateral yang menyertai acara tersebut, Chan Chun Sing menekankan filosofi keamanan yang dianut Singapura. "Kami selalu percaya bahwa keamanan sejati tidak dicapai melalui isolasi. Keamanan terbaik dijaga melalui kemitraan yang mempromosikan perdamaian dan stabilitas," ujar Chan. Ia menilai TNI merupakan mitra krusial bagi keamanan kawasan ini, dan kemitraan tersebut akan terus mendorong perdamaian di wilayah yang lebih luas.
Sementara itu, kunjungan kerja Chan Chun Sing ke Jakarta berlangsung selama dua hari, dari 14 hingga 15 Juli 2026. Selain meresmikan alumni pertahanan, ia juga menghadiri Resepsi Hari SAF, acara tahunan diplomatik dan militer yang digelar oleh Kantor Atase Pertahanan Singapura.
Ke depannya, kedua menteri sepakat untuk terus menjajaki area kerja sama bilateral yang baru. Kerja sama multilateral melalui platform seperti ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) juga dinilai penting untuk terus dirawat. PERSAHAN diproyeksikan akan menjadi ruang diskusi informal namun berpengaruh bagi para pembuat keputusan pertahanan di masa mendatang.