Internasional

Infantino Bertahan di Kursi FIFA, Siap Hadapi Pilpres 2027

Ringkasan

  • Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan akan bertahan dan maju kembali dalam pemilihan Maret 2027 meski menghadapi kritik keras dari UEFA dan internal FIFA soal rencana privatisasi komersial yang dibatalkan.

Gianni Infantino menggelar pertemuan mendadak dengan dewan eksekutif FIFA di kantor regional Afrika, Rabat, Maroko, pada Rabu lalu. Pertemuan itu digelar sehari setelah Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom mengirim memo internal yang menilai rangkaian peristiwa terbaru sebagai "sedih dan memalukan". Infantino hadir di depan para eksekutif senior untuk menegaskan komitmennya tetap di kursi presiden hingga periode keempat.

Kontroversi bermula dari usulan FIFA Forward Enterprise, rencana yang mengusulkan penjualan operasional komersial dan event ke investor swasta. Proposal itu mendapat tolak keras dari UEFA yang menilainya sebagai "transaksi gelap, di ruang tertutup, dan tidak transparan". Badan induk sepak bola Eropa bahkan menyatakan kehilangan kepercayaan penuh terhadap kepemimpinan Infantino.

Di dalam FIFA sendiri, gejolak tak kalah hebat. Grafstrom, yang dijabat Infantino sendiri pada 2023, tidak ragu mengecam kebijakan atasan secara terbuka melalui memo yang bocor ke media. Ia menilai proses pengambilan keputusan soal privatisasi tidak melibatkan konsultasi yang memadai dengan anggota dewan dan staf. Beberapa direktur departemen turut menyuarakan kekecewaan soal tata kelola yang dinilai semakin sentralistik.

Infantino menanggapi tekanan itu dengan sikap konfrontif. Dalam pertemuan tertutup di Rabat, ia mengingatkan bahwa mandatnya masih sah hingga kongres 2027 dan menantang kritikus untuk mengajukan kandidat lawan. Batas pendaftaran calon presiden ditetapkan 18 November mendatang, sementara pemungutan suara akan digelar di Maroko pada Maret 2027. Untuk menang, calon butuh 106 suara dari 211 asosiasi anggota.

Analis tata kelola olahraga menilai posisi Infantino tetap kuat meski reputasi tergores. Jaringan dukungan yang dibangun melalui program FIFA Forward — hibuan pembangunan infrastruktur ke asosiasi kecil — menciptakan loyalitas struktural di benua Afrika, Asia, dan Amerika Tengah. Lawan potensial seperti Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa (Bahrain) atau Aleksander Čeferin (Slovenia, ketua UEFA) belum menunjukkan niat maju secara terbuka.

Kendati demikian, keretakan internal berisiko melemahkan legitimasi FIFA di mata sponsor global. Beberapa mitra komersial sudah menanyakan soal tata kelola dan transparansi ke depan. Jika kepercayaan sponsor erosi, aliran dana yang membiayai pengembangan sepak bola dasar di negara-negara berkembang — termasuk Indonesia — bisa terdampak jangka menengah.

Bagi sepak bola Indonesia, stabilitas kepemimpinan FIFA berarti kelanjutan program bantuan teknis dan dana Forward yang sudah mengalir sejak 2016. PSSI menerima bantuan pembangunan lapangan, pusat pelatihan, dan sistem administrasi melalui skema ini. Perubahan kepemimpinan yang tiba-tiba bisa mengganggu komitmen jangka panjang yang sudah disepakati.

Sisi lain, kritik UEFA soal transparansi mengingatkan pentingnya reformasi tata kelola yang tidak hanya bersifat kosmetik. Indonesia sebagai anggota FIFA dan AFC punya kepentingan agar proses pengambilan keputusan melibatkan konsultasi yang inklusif, bukan kebijakan top-down yang justru memicu resistensi internal.

Langkah selanjutnya Infantino akan fokus mengonsolidasi basis suara di kongres-kongres konfederasi mendatang. Ia dijadwakan hadir di kongres AFC dan CAF kuartal depan untuk memperkuat aliansi. Sementara UEFA kemungkinan akan mendorong kandidat consensus dari Eropa jika memutuskan untuk menantang secara serius.

Pemilihan 2027 akan menjadi uji nyata apakah model kepemimpinan Infantino — yang mengandalkan jaringan bantuan pembangunan dan diplomasi pribadi — masih efektif di era di mana sponsor dan opini publik menuntut akuntabilitas yang lebih ketat. Hasilnya akan menentukan arah tata kelola sepak bola dunia setidaknya hingga 2031.

Mengapa Ini Penting

Kestabilan kepemimpinan FIFA menentukan aliran dana pengembangan sepak bola ke Indonesia melalui program Forward. Jika Infantino gugur atau terlemah, komitmen hibuan jangka panjang untuk lapangan, pusat pelatihan, dan sistem administrasi PSSI bisa terganggu. Kritik UEFA soal transparansi juga jadi pelajaran bagi PSSI: reformasi tata kelola harus partisipatif, tidak top-down, agar tidak memicu resistensi internal yang justru melumpuhkan organisasi.

Sumber Asli
BBC News
Tanggal
5 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit