Pemerintah Inggris melalui regulator industri airnya, Ofwat, meminta komunitas Muslim dan warga keturunan Asia untuk mengurangi penggunaan air saat ibadah wudhu dan mencuci beras. Langkah ini diluncurkan sebagai bagian dari program efisiensi penggunaan air yang bertema 'water efficiency in faith and diverse communities'.
Imbauan ini muncul setelah studi menunjukkan bahwa banyak orang Muslim di Inggris masih menggunakan hingga 12 liter air mengalir setiap kali melaksanakan wudhu, lima kali sehari. Dengan demikian, dampaknya pada konsumsi air harian bisa mencapai puluhan liter per orang.
Program uji coba yang sedang dilakukan di Cambridge justru berhasil membuktikan bahwa penggunaan botol berkapasitas satu liter dapat menghemat hingga 55 liter air per orang per hari. Inisiatif ini melibatkan South Staffordshire Water, Fakultas Teologi Universitas Cambridge, Cambridge Central Mosque — yang menjadi masjid ramah lingkungan pertama di Inggris — serta beberapa perusahaan penyedia air lainnya.
Latar belakang pelaksanaan langkah ini terkait tekanan lingkungan yang semakin meningkat akibat perubahan iklim dan kepadatan penduduk yang tinggi. Inggris menghadapi risiko kekeringan musiman yang semakin sering terjadi, sekaligus meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Kehadiran komunitas Muslim yang cukup besar di Inggris menjadi faktor utama pertimbangan kebijakan ini. Menurut data terbaru, lebih dari 3 juta orang Muslim tinggal di Inggris, banyak di antaranya berasal dari keluarga yang secara tradisional mengkonsumsi air secara signifikan saat ritual keagamaan seperti wudhu dan pencucian beras sebelum dimakan.
Dampak langsung dari kebijakan ini akan terasa paling kuat pada komunitas Muslim di Inggris itu sendiri. Namun, jika strategi serupa diterapkan secara luas, ia juga bisa memberi pelajaran berharga bagi negara-negara lain termasuk Indonesia mengenai pentingnya integrasi kebijakan lingkungan dengan praktik keagamaan.
Di Indonesia sendiri, penggunaan air untuk wudhu tidak dikelola secara terpusat oleh pemerintah daerah atau pusat. Meskipun konsep hemat air sempat muncul dalam berbagai kampanye lingkungan, belum ada kebijakan resmi yang mewajibkan penghematan air khususnya untuk ritual keagamaan. Hal ini berbeda dengan dinamika di Inggris, di mana kebutuhan akan pengelolaan air yang efisien menjadi prioritas nasional.
Menurut pernyataan resmi Ofwat, inisiatif ini bukan sekadar tentang penghematan kuantitatif, tetapi juga edukasi literasi air di kalangan komunitas beragam. Dengan melibatkan tokoh agama dan lembaga keagamaan, diharapkan pesan hemat energo juga menjadi bagian dari budaya sehari-hari.
Cambridge Central Mosque, salah satu mitra kunci program ini, menyatakan dukungannya terhadap gerakan ini. Mereka menekankan bahwa menjaga kebersihan alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual setiap umat manusia, termasuk melalui tindakan kecil seperti menghemat air saat ibadah.
Sementara itu, universitas dan lembaga riset terlibat untuk memantau dampak perilaku baru ini. Fakultas Teologi Universitas Cambridge aktif melakukan survei lapangan guna memahami bagaimana komunitas merespons perubahan ini secara psikologis dan sosial.
Perusahaan penyedia air juga mengamati potensi skala besar dari inovasi ini. Jika wudhu dengan satu liter air bisa menghemat 55 liter per orang per hari, maka penerapan massalnya bisa memberikan dampak signifikan pada jaringan pasokan air kota.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan pendekatan ini. Beberapa kritikus berpendapat bahwa mengatur cara ibadah bisa melanggar prinsip kebebasan beragama. Namun, pemerintah dan regulator menegaskan bahwa imbauan ini bersifat sukarela dan tidak mengikat secara hukum.
Pandangan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi antar-organisasi. Dengan melibatkan berbagai pihak—dari pemerintah hingga tokoh keagamaan—upaya ini diharapkan mampu menciptakan solusi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, program serupa diperkirakan akan diperluas ke kota-kota besar lain di Inggris. Jika berhasil, model kolaborasi antara sektor publik, swasta, dan keagamaan ini bisa menjadi contoh global dalam menghadapi krisis iklim melalui perubahan perilaku mikro yang konsisten.