SINGAPURA: Biro Investigasi Keselamatan Transportasi (TSIB) Singapura mengeluarkan imbauan tegas bagi para pilot untuk mengadopsi pendekatan yang lebih konservatif saat melintasi area dengan kondisi cuaca buruk. Arahan ini muncul setelah dua insiden turbulensi terpisah yang melibatkan maskapai Singapore Airlines (SIA) dan Scoot mengakibatkan sejumlah awak kabin mengalami cedera.
Dalam laporan akhir yang dirilis setahun setelah kejadian, TSIB menekankan pentingnya kru penerbangan untuk melakukan langkah mitigasi lebih awal guna meminimalkan risiko cedera akibat turbulensi. Meskipun investigasi tersebut tidak bertujuan untuk menyalahkan pihak mana pun, pihak berwenang mengklasifikasikan kedua insiden tersebut sebagai kecelakaan yang dapat menjadi pembelajaran berharga bagi industri penerbangan global.
Pada insiden 27 Juni 2025, pesawat Airbus A350-900 milik SIA mengalami turbulensi hebat di ketinggian 27.000 kaki saat hendak mendarat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai. Pilot sempat mencoba menavigasi pesawat di antara dua sel cuaca yang tampak jelas melalui radar dan pandangan mata. Namun, saat memasuki lapisan awan, pesawat justru terjebak dalam kondisi cuaca ekstrem yang tidak terprediksi dengan akurat oleh radar.
Akibat guncangan tersebut, enam awak kabin SIA mengalami cedera, termasuk satu orang yang menderita patah tulang pergelangan kaki. TSIB mencatat bahwa meskipun tanda sabuk pengaman bagi penumpang telah menyala, awak kabin masih diperbolehkan beraktivitas. Investigasi menyimpulkan bahwa menginstruksikan kru untuk duduk lebih awal saat akan melewati celah antar sel cuaca dapat menurunkan risiko cedera secara signifikan.
Menanggapi temuan ini, Singapore Airlines telah memperbarui prosedur keamanan kabin mereka. Maskapai kini mendorong pilot untuk mengambil langkah manajemen turbulensi yang lebih berhati-hati. Selain itu, SIA telah mengintegrasikan skenario turbulensi yang tidak terduga ke dalam pelatihan teknis gabungan antara pilot dan awak kabin untuk memastikan seluruh staf siap menghadapi situasi serupa di masa depan.
Sebagai bentuk peningkatan teknologi, SIA juga memperkenalkan alat 'Rapidly Developing Cumulus Area'. Perangkat lunak ini memberikan lapisan informasi tambahan pada sistem kesadaran cuaca yang tersedia di kokpit, memungkinkan pilot untuk memantau turbulensi dengan lebih presisi. Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam operasional penerbangan untuk menjamin keselamatan kru dan penumpang di tengah perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.