Para investor institusional global kini mengubah strategi mereka dalam bertransaksi menggunakan mata uang yuan. Fokus utama mereka tidak lagi sekadar untuk mendapatkan akses masuk ke pasar Tiongkok, melainkan bagaimana cara meningkatkan skala operasi yuan secara masif. Hong Kong kini muncul sebagai infrastruktur sentral yang memfasilitasi pergeseran strategis ini bagi para pelaku pasar internasional.
Survei terbaru yang dilakukan oleh HSBC terhadap lebih dari 120 investor institusional, yang secara kolektif mengelola aset bernilai lebih dari US$32 triliun di 12 pasar Asia-Pasifik, menunjukkan tren yang signifikan. Sebanyak 63 persen responden menyatakan lebih memilih pasar yuan lepas pantai (offshore) untuk melakukan transaksi mata uang. Selain itu, 54 persen responden mengaku sangat mengandalkan saluran lintas batas seperti Bond Connect dan Stock Connect untuk mendukung aktivitas investasi mereka.
Adopsi yuan kini didorong oleh kebutuhan portofolio yang lebih luas. Sebanyak 66 persen responden menyebutkan diversifikasi aset sebagai pendorong utama alokasi dana mereka ke dalam mata uang Tiongkok. Angka ini melampaui alasan ketergantungan pada jejak perdagangan global Tiongkok sebesar 54 persen, serta upaya mengejar peluang imbal hasil (yield) spesifik yang hanya mencapai 40 persen dari total responden.
Optimisme terhadap mata uang ini juga terlihat dari rencana para investor untuk jangka pendek. Sekitar tiga perempat dari responden menyatakan berencana untuk meningkatkan alokasi yuan mereka dalam satu hingga dua tahun ke depan. Seiring dengan peningkatan alokasi tersebut, terdapat pula lonjakan permintaan terhadap instrumen lindung nilai (hedging) dan alat manajemen risiko untuk mengamankan posisi investasi mereka.
Cheuk Wong, Kepala Pasar dan Layanan Sekuritas HSBC untuk Hong Kong, menjelaskan bahwa paradigma akses pasar renminbi telah berubah drastis. Menurutnya, isu utama saat ini bukan lagi tentang bagaimana cara masuk ke pasar Tiongkok, melainkan bagaimana investor dapat beroperasi secara mulus dalam skala besar. Kemampuan untuk mengelola volume besar dengan efisien menjadi penentu utama dalam kompetisi pasar keuangan global saat ini.
Pergeseran ini terjadi di tengah upaya berkelanjutan Beijing untuk menginternasionalkan mata uang renminbi. Berbagai skema keuangan lintas batas yang diperluas, ditambah dengan pertumbuhan kolam likuiditas lepas pantai, memungkinkan investor global untuk mengakses aset-aset Tiongkok tanpa harus sepenuhnya berpartisipasi di pasar domestik (onshore). Langkah ini memperkuat posisi Hong Kong sebagai pintu gerbang keuangan yang vital bagi ekonomi global.