Bisnis & Startup

Ekonomi ASEAN Semakin Kompetitif Usai Vietnam dan Filipina Naik Kelas

Ekonomi ASEAN Semakin Kompetitif Usai Vietnam dan Filipina Naik Kelas

Ringkasan

  • Indef menilai peta ekonomi ASEAN kini semakin kompetitif seiring naiknya status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas.

Peta ekonomi kawasan Asia Tenggara kini mengalami pergeseran signifikan seiring dengan masuknya Vietnam dan Filipina ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas. Berdasarkan data Bank Dunia, kedua negara tersebut kini bergabung dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam kategori negara dengan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita di rentang 4.636 hingga 14.375 dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai fenomena ini menandai babak baru bagi ASEAN. Kawasan ini tidak lagi hanya sekadar mengandalkan keunggulan upah buruh yang murah, melainkan telah bertransformasi menjadi arena persaingan yang mengedepankan produktivitas, industrialisasi, daya saing ekspor, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Bagi Indonesia, kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang strategis. Di satu sisi, persaingan dalam menarik investasi asing langsung (FDI) akan semakin ketat. Investor global kini memiliki lebih banyak opsi untuk membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang unggul dalam manufaktur berorientasi ekspor, Filipina yang kuat di sektor jasa, serta Thailand dan Malaysia yang memiliki rantai pasok industri yang lebih matang.

Namun, Rizal menekankan bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan kompetitif berupa skala ekonomi yang masif, pasar domestik yang luas, kekayaan sumber daya alam strategis, serta potensi besar dari kebijakan hilirisasi industri. Indonesia berpeluang menjadi basis produksi terintegrasi jika mampu masuk lebih dalam ke dalam rantai nilai regional, alih-alih terus bergantung pada ekspor bahan mentah.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental yang harus segera dibenahi. Beberapa di antaranya meliputi produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, tingginya biaya logistik dan energi, ketidakpastian regulasi, serta kesenjangan kualitas SDM dan inovasi di berbagai daerah. Efisiensi birokrasi menjadi kunci utama agar Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara tetangga yang sedang bergerak agresif.

Dalam jangka panjang, target Indonesia untuk menjadi negara berpendapatan tinggi tetap realistis namun memerlukan upaya ekstra. Rizal mengingatkan bahwa menjaga pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen saja tidak cukup. Indonesia perlu mendorong reformasi struktural yang berfokus pada industrialisasi bernilai tambah, penguatan pendidikan vokasi, serta modernisasi sektor jasa untuk menghindari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran status ekonomi di ASEAN menuntut Indonesia untuk segera meningkatkan efisiensi birokrasi dan inovasi teknologi agar tetap relevan dalam rantai pasok global. Bagi sektor bisnis dan teknologi, tren ini mendorong perlunya akselerasi digitalisasi industri dan peningkatan kualitas talenta lokal untuk memenangkan persaingan investasi di kawasan.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit