Komando militer Iran secara resmi mengeluarkan peringatan keras bagi kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute yang tidak disetujui. Pihak militer menegaskan akan memberikan tanggapan tegas terhadap setiap pelanggaran protokol navigasi yang ditetapkan oleh Republik Islam Iran di jalur maritim strategis tersebut.
Pernyataan dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya ini muncul hanya sehari setelah mediator Qatar mengklaim adanya kemajuan positif dalam negosiasi tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini menciptakan ketidakpastian baru bagi arus perdagangan energi global yang sangat bergantung pada jalur sempit tersebut.
Dalam pernyataan resminya, militer Iran menyatakan bahwa kegagalan untuk mematuhi rute yang telah ditentukan atau pengabaian terhadap protokol navigasi akan dianggap sebagai ancaman keamanan. Kapal yang melanggar akan segera menghadapi tindakan keras dari angkatan bersenjata Iran, yang berpotensi membahayakan keselamatan kapal itu sendiri.
Ketegangan ini dipicu oleh dialog keamanan yang dipimpin oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) di Bahrain, di mana para pemimpin regional menekankan pentingnya kelancaran arus perdagangan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menolak peran AS dalam menjaga keamanan di Teluk Persia dan menegaskan bahwa stabilitas regional hanya bisa dicapai melalui penarikan pasukan Amerika.
Selat Hormuz merupakan titik krusial bagi perdagangan minyak dan gas alam dunia. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, tercatat setidaknya 49 serangan terhadap kapal komersial di wilayah tersebut. Meskipun ada nota kesepahaman antara AS dan Iran untuk menjamin keamanan pelayaran, ancaman serangan tetap menjadi momok bagi perusahaan pelayaran internasional.
Situasi ini terus menjadi hambatan utama dalam perundingan perdamaian antara Washington dan Teheran. Dengan meningkatnya frekuensi serangan drone terhadap kapal berbendera asing, masa depan keamanan Selat Hormuz tetap menjadi isu yang sangat sensitif bagi stabilitas pasar energi dan geopolitik global di tengah upaya gencatan senjata yang masih rapuh.