DUBAI: Komando militer gabungan Iran mengeluarkan peringatan keras pada Kamis (2/7) terhadap seluruh kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pihak militer menegaskan bahwa setiap kapal wajib mematuhi rute yang telah ditetapkan oleh otoritas Iran. Kegagalan dalam mematuhi protokol navigasi ini akan berujung pada respons tegas dari angkatan bersenjata Iran, yang dinilai dapat membahayakan keamanan kapal-kapal tersebut.
Pernyataan resmi dari komando militer Khatam al-Anbiya ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang kembali meningkat di jalur air vital bagi suplai energi global tersebut. Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik fokus utama dalam negosiasi internasional yang berupaya mengakhiri konflik perang yang sedang berlangsung. Ketegangan ini diperparah dengan keterlibatan diplomat dari Amerika Serikat dan Iran yang baru saja melakukan pertemuan dengan mediator di Qatar pada Rabu lalu.
Di sisi lain, Iran saat ini tengah diselimuti suasana duka menyusul wafatnya Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei. Sang pemimpin dilaporkan tewas pada hari-hari awal pecahnya perang di bulan Februari lalu. Media pemerintah Iran telah menyiarkan prosesi kedatangan peti jenazah Khamenei di Imam Khomeini Hussainiya sebagai bagian dari rangkaian upacara penghormatan terakhir yang dijadwalkan berlangsung selama satu pekan penuh mulai hari Sabtu mendatang.
Pemicu spesifik di balik peringatan terbaru Iran terkait navigasi kapal tanker ini memang belum sepenuhnya jelas. Namun, pengamat menilai hal ini merupakan respon terhadap pernyataan Komando Pusat militer Amerika Serikat yang menekankan komitmen bersama negara-negara Timur Tengah untuk menjaga kebebasan arus perdagangan melalui Selat Hormuz. Narasi tersebut diduga kuat telah memicu kemarahan otoritas di Teheran.
Selain memberikan peringatan kepada kapal komersial, Iran juga mengeluarkan pernyataan tegas bahwa intervensi langsung dari pasukan Amerika Serikat di selat tersebut akan dihadapi dengan reaksi cepat dan menentukan. Ketegangan ini berpangkal pada upaya Iran yang ingin mengontrol rute pelayaran dan membebankan biaya transit, yang bertentangan dengan praktik navigasi internasional selama puluhan tahun di wilayah tersebut.
Meski ancaman serangan meningkat, data dari perusahaan intelijen maritim Lloyd’s List menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat mengalami lonjakan signifikan pekan lalu. Tercatat sebanyak 258 kapal berhasil melintasi jalur tersebut, meningkat tajam dibandingkan 138 kapal pada minggu sebelumnya. Namun, volume pelayaran ini masih berada jauh di bawah tingkat normal sebelum perang pecah, yang mengindikasikan bahwa ketidakpastian keamanan masih menghantui sektor energi global.