Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah melancarkan serangan rudal balistik ke dua pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Senin (31/8). Sasaran adalah Pangkalan King Hussein dan Pangkalan Al Azraq, yang keduanya menjadi titik operasi penting bagi kehadiran militer Washington di Timur Tengah.
Menurut pernyataan resmi IRGC yang dikutip Al Jazeera, serangan itu menghancurkan infrastruktur teknis, fasilitas perbaikan, serta lokasi penempatan pesawat tempur. Komando militer Iran menegaskan bahwa setiap agresi terhadap kedaulatan mereka akan dibalas dengan kekuatan yang lebih menghancurkan, khususnya terkait kendali Iran atas Selat Hormuz.
Serangan balas ini tidak muncul dalam kekosongan. Hanya kurang dari 24 jam sebelumnya, pada Minggu (30/8), militer AS melancurkan serangan ke Pulau Larak di selatan Iran. Washington mengklaim aksi pencegahan itu diperlukan setelah intelijen menunjukkan IRGC menyiapkan peluncuran roket berwajah ranjau laut ke Selat Hormuz — jalur strategis yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia.
Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi soal kerusakan atau korban jiwa dari serangan balas Iran. Namun, dua pejabat pertahanan AS yang memilih anonim mengonfirmasi ke Reuters bahwa rudal balistik Iran mendarat di area pangkalan, memicu sirene peringatan dan memaksa personel ke bunker. Belum ada laporan korban fatal hingga tengah malam waktu setempat.
Konflik ini sudah memasuki bulan keenam sejak meledak pada Maret lalu, ketika serangkaian insiden tanker di Teluk Oman memicu pertukaran tembakan terbatas. Selama setengah tahun, kedua belah pihak berusaha menahan eskalasi penuh melalui saluran diplomatik tertutup di Oman dan Qatar. Serangan AS ke Pulau Larak menjadi yang pertama sejak Juli, menandai kegagalan upaya deeskalasi.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar berita luar negeri. Sebagai negara impor neto minyak dan gas, gangguan aliran tanker melalui selat sempit itu berdampak langsung ke harga BBM dan pupuk domestik. Kementerian ESDM telah mengaktifkan tim mitigasi sejak April, mempersiapkan skenario pengangkutan alternatif via Kepala Baik dan Selat Malaka jika Hormuz tertutup total.
Pertamina, melalui anak usaha Pertamina International Shipping, telah mengarahkan armada tanker miliknya untuk menghindari zona konflik dan menambah stok cadangan di terminal Cilacap dan Balikpapan. Data internal menunjukkan cadangan minyak mentah nasional saat ini cukup untuk 28 hari konsumsi — di atas standar keamanan 20 hari, namun marginnya menipis jika eskalasi berlanjut.
Di sisi keamanan maritim, TNI AL meningkatkan patroli di Selat Malaka dan Singapura mengantisipasi pengalihan rute tanker internasional. Lalu lintas kapal melalui Selat Malaka naik 12 persen sejak Mei, menciptakan tekanan pada kapasitas pelabuhan Dumai dan Batam. Otoritas Pelabuhan Batam mengakui antrean kapal tanker mencapai 3-4 hari pada jam sibuk.
Analis keamanan Institut Pertahanan Indonesia, Col (Purn) Agus Wijayanto, menilai Iran sengaja memilih target di Yordania — bukan Irak atau Suriah — untuk menghindari respons militer Israel yang lebih cepat. "Yordania adalah sekutu AS yang relatif rentan, dan menyerang basis di sana mengirim sinyal ke Washington tanpa memicu perang regional instan," ujarnya saat dihubungi Senin malam.
Sementara itu, Iran mengklaim serangan ini sebagai demonstrasi kemampuan rudal balistik presisi jarak menengah — teknologi yang dikembangkan secara mandiri meski sanksi. Pakar rudal CSIS, Dr. Siti Rahmawati, menilai akurasi tembakan ke Yordania menunjukkan kemajuan sistem navigasi inersial Iran, yang juga relevan untuk program satelit dan rudal pertahanan udara domestik Indonesia.
Langkah selanjutnya bergantung pada respons Washington. Jika AS memilih serangan terbatas kembali — misalnya menargetkan radar pantai Iran — siklus tit-for-tat bisa berlanjut bulan. Namun, jika Trump memerintahkan serangan ke fasilitas nuklir Natanz atau Fordow, risiko perang regional total menjadi nyata. ASEAN dalam KTT Darurat minggu depan di Vientiane dijadwalkan membahas rencana kontingensi bersama, termasuk koordinasi evakuasi WNI dari Teluk jika diperlukan.
Saat ini, harga minyak Brent naik 3,2 persen menjadi USD 87,4 per barel pagi Senin — level tertinggi sejak Februari. Pasar mengantisipasi ketidakpastian pasokan, bukan gangguan aktual. Bagi Indonesia, tekanan ini akan diuji dalam rapat koordinasi Harga BBM minggu depan, di mana Pertamina dan Kementerian Keuangan harus memutuskan apakah menahan subsidi atau meneruskan kenaikan ke konsumen.