Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Nia, mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara baru telah resmi beroperasi dan meningkatkan kapasitas menembak pesawat musuh dengan kekuatan jauh lebih besar. Pengumuman itu disampaikan melalui wawancara dengan media lokal pada hari Rabu, sehari setelah pejabat AS mengklaim Iran telah melemah.
Klaim tersebut muncul di tengah eskalasi militer yang memanas kembali setelah gencatan senjata sementara. Selama sebelas hari terakhir, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS melancarkan serangkaian serangan presisi ke sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk jembatan dan situs nuklir yang diduga tersembunyi di bawah gunung. Presiden Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Teheran sudah memohon kembali ke meja perundingan.
Iran menanggapi tuduhan itu dengan menegaskan bahwa persiapan menghadapi konfrontasi semacam ini telah dilakukan selama bertahun-tahun. Menurut Akrami Nia, akademi militer, khususnya Universitas Komando dan Staf, telah mengarahkan kurikulum pada skenario perang yang melibatkan AS dan Israel selama dua dekade terakhir. Latihan berkala dan perencanaan logistik memungkinkan respons cepat dalam waktu kurang dari dua jam.
Sistem pertahanan yang baru diperkenalkan tidak diberi nama secara rinci, namun digambarkan sebagai platform terintegrasi yang menggabungkan radar jarak jauh, peluncur rudal surface-to-air generasi terbaru, dan jaringan komando otomatis. Pejabat militer Iran mengklaim sistem ini mampu melacak dan menembak target multiple secara simultan, mengurangi ketergantungan pada peralatan Rusia dan China yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan udara negara ini.
Dalam wawancara yang dikutip The Middle East Monitor, Akrami Nia menyebut momen ini sebagai "momen bersejarah yang sangat sensitif". Ia menambahkan bahwa kinerja rakyat, angkatan bersenjata, Angkatan Darat, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan semakin memperkuat posisi Iran di kawasan maupun tingkat internasional. Pernyataan itu bertujuan menegaskan legitimasi internal dan mengirim sinyal deterrence ke lawan.
Iran kembali menolak tuduhan bahwa program nuklirnya bermaksud produksi senjata. Akrami Nia menegaskan bahwa AS menggunakan isu nuklir sebagai dalih untuk melancarkan serangan militer dan menerapkan sanksi ekonomi yang berat. Teheran berpendapat bahwa program atomnya bersifat sipil dan berada di bawah pengawasan Lembaga Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Menurut analisis militer, klaim AS bahwa Iran telah melemah merupakan kesalahan strategis. Washington memperkirakan kemampuan respons Iran terbatas setelah serangkaian serangan, namun realita di lapangan menunjukkan kesiapan operasional yang tetap utuh. Kesalahan perhitungan ini berpotensi mendorong AS untuk memperluas cakupan serangan, yang justru memperparah ketidakstabilan regional.
Kesiapan respons dalam dua jam dicapai berkat rencana operasional yang terstruktur, pelatihan berkala, dan ketersediaan cadangan logistik yang tersebar di berbagai basis. Jaringan komunikasi terenkripsi memungkinkan koordinasi real-time antara radar, pusat komando, dan peluncur rudal tanpa ketergantungan pada satelit asing yang rentan terhadap gangguan elektronik.
Kenaikan ketegangan ini berdampak langsung pada pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 4 persen dalam dua hari terakhir, mengkhawatirkan negara-importir neto seperti Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengaktifkan tim mitigasi untuk memantau pasokan dan harga bahan bakar, serta menyiapkan cadangan strategis jika konflik berlanjut.
Di sisi diplomatik, Indonesia menegaskan komitmen pada penyelesaian damai melalui dialog multilateral. Jakarta mendorong PBB dan organisasi regional seperti OIC untuk memfasilitasi mediasi, sekaligus menyiapkan jalur humaniter bagi warga negara Indonesia yang berada di wilayah konflik. Kebijakan netral ini sejalan dengan prinsip bebas aktif yang menjadi landasan politik luar negeri Indonesia.
Proyeksi ke depan menunjukkan dua skenario utama. Pertama, eskalasi terbatas di mana kedua belah pihak menghindari konfrontasi penuh namun terus melakukan demonstrasi kekuatan. Kedua, perebutan inisiatif militer yang meluas ke Selat Hormuz, mengancam aliran minyak global. Pemantauan intensif terhadap perkembangan sistem pertahanan Iran dan kebijakan AS akan menentukan arah situasi di bulan-bulan mendatang.
Kesimpulannya, pengoperasian sistem pertahanan udara baru menandakan bahwa Iran tidak hanya bertahan tetapi juga berinvestasi pada kemampuan deterrence jangka panjang. Bagi Indonesia, stabilitas Timur Tengah tetap krusial bagi keamanan energi dan harga komoditas, sehingga diplomasi preventif dan diversifikasi sumber energi menjadi prioritas strategis.