Internasional

Iran Sebut AS Tekan Militer Jelang Putaran Negosiasi Baru

Ringkasan

  • Iran menyebut AS lancarkan serangan militer jelang negosiasi untuk lemahkan posisi Teheran di Selat Hormuz, Jumat 17 Juli 2026.

Anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ahmad Bakhshayesh Ardestani, menyatakan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer untuk melemahkan posisi tawar Teheran menjelang perundingan lanjutan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan RIA Novosti yang dipublikasikan pada Jumat, 17 Juli 2026, dan dikutip oleh Antara.

Serangan terbaru dilancarkan setelah militer AS menghantam sejumlah target di Iran sejak 8 Juli 2026. Komando Pusat AS (CENTCOM) beralasan tindakan itu merupakan respons atas perlakuan Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Teheran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Ketegangan kedua negara sebenarnya sempat mereda saat keduanya menandatangani nota kesepahaman secara tidak langsung pada malam menuju 18 Juni 2026. Dokumen itu mengatur penghentian konflik militer. Namun, kesepakatan tersebut tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Ardestani menilai nota kesepahaman sebelumnya tidak komprehensif. Sejumlah ketentuan dinilai ambigu dan bisa ditafsirkan berbeda oleh masing-masing pihak. Butir kelima dalam dokumen itu menjadi sorotan karena mengatur pengelolaan Selat Hormuz melalui mekanisme Iran bersama Oman.

Oman merupakan negara Arab yang rentan terhadap pengaruh negara Teluk dan tekanan Washington. Hal itu dimanfaatkan AS untuk mendorong apa yang disebut koridor Oman bagi pelayaran kapal di Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi mengurangi peran Iran dalam pengelolaan selat strategis tersebut.

Bagi Indonesia, konflik di Selat Hormuz bukan sekadar berita luar negeri. Selat itu adalah jalur utama pasokan minyak dan gas serta perdagangan global. Kementerian ESDM mencatat sebagian kebutuhan energi domestik bergantung pada impor melalui rute Timur Tengah. Gangguan navigasi berdampak langsung pada harga BBM dan inflasi nasional.

Pelaku usaha logistik Tanah Air juga terdampak. Kenaikan biaya asuransi kapal dan premi risiko perang kerap dibebankan ke rantai pasok. Tahun lalu, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia melaporkan kenaikan ongkos kirim saat ketegangan di Timur Tengah memuncak.

Di sisi lain, upaya mediasi masih berjalan. Pakistan, Qatar, dan Turki berupaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington. Ardestani menyebut ketiga negara masih berupaya menjadi jembatan dialog meski AS dinilai yakin dapat melemahkan Iran sebelum negosiasi berikutnya.

“Pakistan, Qatar dan bahkan Turki masih melakukan upaya mediasi. Namun, Amerika masih meyakini bahwa mereka akan mampu melemahkan Iran sampai batas tertentu sebelum perundingan berikutnya,” ucap Ardestani. Ia menambahkan tujuan utama Washington adalah memangkas pengaruh Iran di Selat Hormuz.

Proyeksi ke depan menunjukkan negosiasi akan berat. AS diprediksi terus menggunakan tekanan militer sebagai instrumen politik. Iran tidak akan mundur dari klaim kedaulatan atas Selat Hormuz. Mediator regional perlu merumuskan format yang lebih mengikat agar nota kesepahaman tidak lagi multitafsir.

Indonesia bersama negara ASEAN perlu memperkuat cadangan energi dan diversifikasi rute impor. Kerja sama dengan produsen non-Timur Tengah seperti Rusia dan Afrika menjadi opsi strategis. Tanpa mitigasi, gejolak di Hormuz akan terus mengancam stabilitas ekonomi domestik.

Mengapa Ini Penting

Konflik di Selat Hormuz berdampak langsung pada harga energi dan logistik Indonesia karena ketergantungan impor melalui rute tersebut. Ketidakpastian navigasi dapat memicu inflasi dan memperlemah daya beli masyarakat. Pemerintah perlu akselerasi diversifikasi pasokan dan cadangan strategis agar gejolak luar negeri tidak mengguncang stabilitas ekonomi nasional.

Sumber Asli
Tempo Dunia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit