Tentara Iran mengklaim telah berhasil menargetkan sistem rudal bergerak HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Camp Arifjan, Kuwait. Serangan dilancarkan menggunakan rudal permukaan-ke-permukaan pada Selasa (21/7) pagi waktu setempat, menurut pernyataan resmi yang disiarkan stasiun televisi negara IRIB dan dikutip kantor berita IRNA.
Operasi ini dikategorikan sebagai fase ke-18 dari Operasi "Thunder" yang digulirkan Teheran sebagai respons militer terhadap akuisisi Washington selama sepuluh hari terakhir. Menurut pejabat hubungan masyarakat Angkatan Darat Iran, penembakan sasaran HIMARS bertujuan melumpuhkan kemampuan ofensif dan defensif musuh sekaligus mengurangi kapasitas rudal lawan dalam melancarkan aksi agresi.
Camp Arifjan berlokasi di selatan Kota Kuwait dan berfungsi sebagai pangkalan strategis yang menampung personel dari keempat cabang angkatan bersenjata AS: Angkatan Udara, Angkatan Laut, Korps Marinir, dan Penjaga Pantai. Kehadiran HIMARS di fasilitas ini memperkuat postur deterrence Washington di Teluk Persia, mengingat sistem ini mampu berpindah dengan cepat dan menyerang sasaran darat dengan presisi tinggi.
Eskalasi terbaru ini memecah gencatan senjata yang baru disepakati kedua belah pihak pada akhir Juni lalu. Keduanya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri siklus balas dendam yang meledak sejak awal tahun. Namun, ketegangan kembali memanas setelah AS melancarkan serangkaian serangan terhadap posisi Iran, mendorong Teheran untuk merespons dengan demonstrasi kekuatan militer yang terukur.
Presiden Masoud Pezeshkian dalam keterangan terpisah menilai bahwa konfrontasi antara Tehran dan Washington telah berkembang menjadi "perang berskala penuh". Pernyataan ini menandakan pergeseran narasi dari insiden terbatas menuju konflik terbuka, meski kedua negara tetap menghindari perang total yang dapat menenggelamkan wilayah Teluk Persia.
HIMARS sendiri telah menjadi simbol proyeksi kekuatan AS di berbagai teater operasi, termasuk Ukraina. Sistem ini memungkinkan penembakan rudal terpandu GMLRS dengan jangkau hingga 80 kilometer, serta rudal jangka menengah ATACMS yang mampu menjangkau sasaran hingga 300 kilometer. Kemampuan mobilitas tinggi membuatnya sulit dilacak dan ditembak balik oleh lawan.
Bagi Iran, menargetkan HIMARS di Kuwait merupakan sinyal strategis bahwa Teheran mampu mengancam aset militer AS di luar batas wilayahnya. Pilihan sasaran di negara ketiga — Kuwait — juga menguji komitmen keamanan kolektif negara-negara Teluk yang banyak mengandalkan payung keamanan Washington.
Analis militer menilai serangan ini lebih bersifat simbolis dan pengukuran batas (probing) daripada upaya menghancurkan kapasitas militer AS secara total. Jumlah rudal yang ditembakkan dan kerusakan aktual belum diverifikasi secara independen. Namun, dampak psikologis dan politik bagi sekutu AS di wilayah ini tidak bisa diremehkan.
Kuwait hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi soal insiden ini. Negara khalayak Teluk cenderung menghindari siding secara terbuka, mengutamakan diplomasi tertutup untuk mencegah wilayah mereka dijadikan medan perang proxy. Posisi ini semakin sulit dijaga seiring meningkatnya frekuensi pertukaran tembakan.
Di sisi lain, AS belum mengonfirmasi kerugian material atau personel. Pentagon biasanya menunda pengakuan kerugian hingga penilaian kerusakan selesai. Kebijakan ini juga bertujuan menghindari tekanan politik domestic untuk balas dendam segera, yang bisa memperparah eskalasi.
Ke depannya, mata dunia akan tertuju pada apakah Washington akan merespons dengan serangan balik, atau memilih jalur deeskalasi melalui perantara Oman atau Qatar yang sering memfasilitasi dialog terselubung. Kunci berikutnya ada pada keputusan Iran apakah akan melanjutkan Operasi "Thunder" ke fase berikutnya, atau menghentikan siklus balas dendam demi stabilitas regional.