Serangkaian ledakan menggelegar wilayah Teluk Persia pada Senin dini hari setelah Iran melancurkan gelombang serangan drone dan rudal ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat. Staf Umum Angkatan Bersenjata Kuwait mengonfirmasi sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat ancaman drone yang diluncurkan dari Iran, dengan ledakan yang terdengar warga justru berasal dari peluru pertahanan, bukan rudal musuh.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain turut membunyikan sirene peringatan serangan udara, mengimbau seluruh warga tetap tenang dan segera menuju tempat perlindungan terdekat. Kedua negara Teluk ini menjadi host bagi pangkalan militer AS yang strategis — Kuwait menampung basis Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan, sementara Bahrain menjadi markas Angkatan Laut AS Flotilla Kelima.
Serangan ini tidak berhenti di tepi Teluk. Di Erbil, ibu kota Wilayah Kurdistan Irak, sebuah rudal menghantam markas Partai Kaum Buruh Kurdistan (Komala), kelompok oposisi Kurdi Iran berhaluan kiri yang didirikan 1969. Menurut laporan Shafaq News, Komala menyalahkan Iran atas penembakan itu dan mengklaim fasilitas mereka telah disasaran lebih dari 91 kali sejak pecahnya konfrontasi terbuka antara AS-Israel melawan Iran.
Latar belakang eskalasi ini terkait erat dengan dinamika perang bayangan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Iran lama menggunakan milisi proksi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman untuk menekan kepentingan AS dan Israel. Namun sejak perang Gaza meledak Oktober 2023, tekanan diplomatik dan militernya berubah jadi konfrontasi lebih langsung, terutama setelah Israel menyerang konsulat Iran di Damaskus April lalu.
Balasan Iran April silam — Operation True Promise — menembakkan ratusan drone dan rudal ke Israel, sebagian besar ditembak jatuh oleh koalisi pertahanan yang dipimpin AS. Kini Tehran memilih sasaran yang lebih dekat: aset militer AS di negara-negara Teluk yang dianggap sebagai landasan peluncuran serangan terhadap mereka.
Pemilihan sasaran Kuwait dan Bahrain bukan kebetulan. Kedua negara ini memiliki perjanjian keamanan bilateral dengan Washington dan secara faktis menjadi benteng depan proyeksi kekuatan AS di wilayah. Serangan ke basis Komala di Erbil pun mengirim sinyal ganda: Tehran tidak akan tolerir kehadiran kelompok oposisi di ambang pintunya, sekaligus menguji komitmen Baghdad melindungi kedaulatan udara Irak.
Bagi Indonesia, eskalasi di Teluk Persia membawa implikasi ekonomi nyata. Sekitar 40 persen minyak mentah dunia lewat Selat Hormuz, dan gangguan aliran tanker akan mendorong harga energi global naik. Meskipun Indonesia kini bersifat neto impor minyak, kenaikan harga BBM global tetap menembak subsidi energi dan inflasi domestik.
Di sisi keamanan, ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kuwait dan Bahrain kini berada di zona risiko. Kemlu dan KBRI di kedua negara sudah mengeluarkan imbauan kewaspadaan, meminta warga negara Indonesia mengikuti protokol keamanan setempat dan menghindari area militer. Belum ada laporan WNI korban, namun mitigasi dini krusial.
Analis keamanan regional menilai Iran sengaja memilih serangan terbatas — drone murah dan rudal presisi — untuk menghindari perang total yang merugikan ekonomi mereka yang sudah rapuh sanksi. Strategi "gray zone" ini memaksakan AS harus memutuskan: balas dan risiko eskalasi, atau tahan dan terlihat lemah di mata sekutu Teluk.
Washington hingga kini belum merespons militer. Pentagon hanya mengonfirmasi tidak ada personel AS cedera dan sistem pertahanan berfungsi. Pilihan diplomatik kemungkinan besar akan didahulukan: tekanan ke mitra Teluk untuk ketat mengawasi aktivitas proksi Iran, serta upaya diplomasi tertutup via Oman atau Qatar untuk mendinginkan suhu.
Masa depan tergantung pada apakah Israel akan ikut campur. Jika Tel Aviv menyerang fasilitas nuklir atau minyak Iran, Tehran pasti akan balas lebih keras — dan Selat Hormuz bisa jadi sasaran utama. Skenario terburuk itu akan mengirim guncangan ke pasar energi global, termasuk Indonesia yang masih bergantung impor BBM dan pupuk berbasis gas.