Kementerian Luar Negeri Iran melalui stasiun televisi resmi IRIB mengeluarkan pernyataan keras yang menuding Amerika Serikat melakukan kejahatan perang dengan menargetkan infrastruktur sipil di wilayah barat daya negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan pada hari Rabu, 16 Juli 2026, sehari setelah serangan terbaru yang menimpa fasilitas kesehatan di Ahvaz.
Dalam pernyataan itu, Teheran juga menyebut bahwa Washington telah memperketat blokade laut di Selat Hormuz selama beberapa hari terakhir, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik. Blokade tersebut melibatkan penempatan kapal perang AS di jalur lalu lintas komersial, menghalangi tanker minyak dan kapal kargo yang menuju pelabuhan Iran.
Ketegangan di Selat Hormuz telah memanas sejak pertengahan Juli, setelah kedua belah pihak saling melancarkan serangan meskipun sudah ada kesepakatan perdamaian yang dibawahi oleh Islamabad. Analis militer menilai bahwa kehadiran armada AS tersebut bertujuan memaksa Iran mengurangi program nuklir dan dukungan terhadap sekutunya di Timur Tengah.
Serangan yang diklaim Iran meliputi silo penyimpanan biji-bijian di Kota Hoveyzeh, pabrik air mineral di Musian, menara pengawas maritim di Chabahar yang digunakan nelayan, serta area dekat rumah sakit kanker anak di Ahvaz pada 15 Juli, yang dinilai Tehran sebagai tindakan biadab. Serangan pada silo gandum di Hoveyzeh menghancurkan cadangan pangan strategis, sementara pabrik air mineral di Musian memutus pasokan air bersih bagi ribuan warga.
Sebelumnya, AS juga dilaporkan menyerang bandara Iranshahr yang melukai satu orang, sementara militer Iran membalas dengan meluncurkan drone ke pangkalan AS di Bahrain, memperparah siklus balas dendam. Serangan drone Iran ke pangkalan AS di Bahrain menurut laporan militer AS tidak menimbulkan korban jiwa, namun merusak beberapa hangar dan sistem radar.
Menurut pakar hukum internasional, penargetan fasilitas sipil seperti silo pangan, instalasi air bersih, dan rumah sakit melanggar Piagam PBB dan konvensi Jenewa, sehingga tuduhan kejahatan perang memiliki landasan hukum yang kuat. Paket konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 secara tegas melarang penargetan objek yang tidak bersifat militer, termasuk instalasi sipil yang vital bagi kelangsungan hidup penduduk.
Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa serangan tersebut akan dibalas dengan respons yang "tegas dan langsung", menandakan kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut. Baghaei menambahkan bahwa respons Iran akan diukur secara proporsional namun tidak akan mengorbankan prinsip kedaulatan dan keamanan nasional.
Bagi pasar global, gangguan di Selat Hormuz — di mana sekitar 20 persen minyak dunia lewat — berpotensi mengangkat harga minyak mentah, yang langsung berdampak pada Indonesia sebagai negara impor neto bahan bakar. Kenaikan harga minyak mentah sebesar 5 hingga 7 persen dalam seminggu terakhir sudah tercatat di bursa internasional, dan analis memproyeksikan tekanan inflasi bagi negara-negara impor seperti Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menyerukan penurunan ketegangan dan menegaskan komitmen menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, mengingat ketergantungan ekspor-impor energi melalui selat tersebut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyiapkan skenario cadangan bahan bakar dan diversifikasi rute pengiriman untuk mengantisipasi gangguan pasokan jangka panjang.
Baghaei dalam konferensi pers minggu lalu menyatakan, "Kami tidak akan diam menghadapi agresi yang melanggar hukum dasar kemanusiaan," menguatkan narasi bahwa Iran siap mempertaruhkan konfrontasi terbuka. Kutipan tersebut disampaikan di hadapan wartawan internasional di Teheran, menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima status quo yang merugikan.
Masyarakat internasional kini menunggu apakah diplomasi melalui saluran Pakistan akan berhasil menenangkan situasi, atau apakah siklus serangan balik akan terus berlanjut dan mengancam stabilitas regional serta pasokan energi dunia. Di sisi lain, Pakistan terus mendorong dialog bilateral dan menawarkan fasilitasi pertemuan tingkat tinggi antara Tehran dan Washington pada bulan depan.