Serangan udara Israel kembali menghantam sejumlah permukiman di Gaza pada akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 26 warga Palestina dalam dua hari. Di antara korban adalah keluarga-keluarga yang sedang tidur di rumah mereka, termasuk seorang anak yang belum lahir. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan "kesepakatan bersejarah" pada 30 Juli untuk melucuti senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza. Kesepakatan itu dirancang sebagai pintu masuk ke fase kedua dari perjanjian gencatan senjata yang telah berlangsung sejak Oktober 2025.
Namun, kesepakatan tersebut langsung menghadapi kebuntuan. Negosiator Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan kepada Al Jazeera bahwa kelompoknya tidak akan menerapkan kesepakatan itu selama Israel belum memenuhi kewajibannya, yaitu menghentikan serangan dan menarik pasukan. Sementara itu, juru bicara kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan Israel tidak akan mundur sebelum Hamas benar-benar dilucuti. Kebuntuan ini membuat gencatan senjata yang sudah berlangsung sepuluh bulan itu semakin rapuh. Alih-alih mereda, serangan Israel justru meningkat intensitasnya.
Pada Minggu, serangan menghantam menara al-Sousi di Kota Gaza, menewaskan Abdullah Abu Taif (33), istrinya yang sedang hamil Abeer Anan (29), dan putra mereka yang berusia lima tahun, Azzam. Petugas medis di Rumah Sakit al-Shifa menemukan janin yang belum lahir di antara reruntuhan. Di al-Qarara dekat Khan Younis, serangan lain merenggut nyawa Mahmoud al-Hams (38), istrinya Fatima (37), dan putri kecil mereka. Di dekat Deir el-Balah, pasangan lanjut usia Kamal dan Huda Abu Muailiq tewas di rumah mereka, sementara dua saudara yang mengendarai sepeda motor juga menjadi korban. Serangan malam hari menghantam tenda pengungsian di lingkungan Remal, menewaskan dua orang termasuk seorang anak.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat Juli sebagai bulan paling mematikan sejak awal tahun, dengan 152 orang tewas. Hingga 3 Agustus, total korban tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025 mencapai 1.250 orang dan lebih dari 4.100 luka-luka. Angka ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang diharapkan membawa perdamaian justru menjadi fase baru penderitaan bagi warga Gaza.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi yang dalam. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Serangan yang terus berlanjut ini memicu kecaman luas di dalam negeri, dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah berulang kali mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak. Namun, tekanan diplomatik tampaknya belum mampu menghentikan kekerasan di lapangan.
Di sisi lain, eskalasi ini juga berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pemasok minyak utama Indonesia. Ketegangan yang berkepanjangan berpotensi mempengaruhi harga energi global dan rantai pasokan, yang pada akhirnya berimbas pada harga bahan bakar di dalam negeri. Masyarakat Indonesia yang tengah berjuang melawan inflasi pangan dan energi akan merasakan dampaknya secara tidak langsung.
Utusan khusus Dewan Perdamaian yang dibentuk Trump, Nickolay Mladenov, mengutuk eskalasi tersebut tanpa menyebut Israel secara langsung. "Dua hari serangan di Gaza telah menewaskan warga sipil dan menghancurkan pasokan medis yang menjadi andalan banyak orang," katanya. Sementara itu, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, menyebut serangan terhadap gudang obat di Rumah Sakit Al-Aqsa sebagai "menjadikan obat-obatan dan penyakit sebagai alat perang."
Serangan Israel juga menghancurkan gudang obat di Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah, yang melayani ribuan pengungsi. Dua dari empat fasilitas penyimpanan hancur total, sementara dua lainnya rusak parah. Militer Israel mengklaim menyerang depot senjata Hamas di dekat rumah sakit, namun klaim tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
Di Tepi Barat, situasi juga tidak kalah mencekam. Serangan pemukim Israel meningkat tajam, dengan lebih dari 1.380 insiden tercatat sejak awal 2026, rata-rata 6,6 insiden per hari. Organisasi PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mencatat Juli sebagai bulan paling mematikan bagi warga Palestina akibat serangan pemukim sejak Oktober 2023. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun ditembak di punggungnya pada 31 Juli, dan seorang pasangan lanjut usia dipukuli dengan pentungan di dekat Beitillu.
Ke depan, kebuntuan antara Hamas dan Israel tampaknya akan terus berlanjut. Trump mungkin akan mencoba menekan kedua belah pihak, tetapi tanpa mekanisme penegakan yang jelas, kesepakatan pelucutan senjata hanya akan menjadi dokumen tanpa implementasi. Bagi warga Gaza, setiap hari yang berlalu tanpa solusi berarti lebih banyak nyawa melayang. Sementara itu, komunitas internasional, termasuk Indonesia, harus mencari cara yang lebih efektif untuk menghentikan kekerasan ini, di luar sekadar pernyataan kecaman.