Internasional

Israel Ledakkan Terowongan di Dekat Kastil Beaufort, Gencatan Senjata Kian Rapuh

Ringkasan

  • Tentara Israel meledakkan struktur di dekat Kastil Beaufort, situs UNESCO di Lebanon selatan, dengan 700 ton bahan peledak, Jumat (31/7).
  • Ledakan terjadi meski gencatan senjata hasil mediasi AS telah ditandatangani pada 26 Juni.

Tentara Israel meledakkan sejumlah struktur di dekat Kastil Beaufort, situs warisan dunia UNESCO di Lebanon selatan, pada Jumat (31/7) tengah malam waktu setempat. Militer Israel mengklaim ledakan tersebut menargetkan jaringan terowongan Hizbullah yang disebut menjadi bagian penting dari rencana infiltrasi ke permukiman Galilea.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz dalam pernyataan resmi menyebut operasi itu menggunakan sekitar 700 ton bahan peledak. Ledakan dahsyat tersebut, menurut kantor berita nasional Lebanon NNA, memecahkan kaca jendela sejumlah rumah di kota Qlayaa akibat getaran yang terasa hingga ke permukiman warga.

Peristiwa ini terjadi di tengah pendudukan Israel yang masih berlanjut di Lebanon selatan, meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah ditandatangani pada 26 Juni lalu di Washington. Fakta di lapangan menunjukkan gencatan senjata itu hanya menjadi formalitas belaka, sementara operasi militer Israel terus berjalan.

Kastil Beaufort sendiri merupakan benteng peninggalan era Perang Salib yang baru pekan lalu masuk dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya UNESCO. Letaknya di area yang kini diduduki Israel, menjadikannya saksi bisu eskalasi konflik yang tak kunjung mereda.

NNA juga melaporkan bahwa pasukan Israel menghancurkan sejumlah gua dan rumah di sekitar al-Mansouri dan Majdal Zoun di distrik Tirus dengan beberapa kali tembakan artileri. Ledakan besar lain terdengar di wilayah Yohmor al-Shaqif, Arnoun, dan Kfar Tebnit, dengan suara yang sampai terdengar ke berbagai wilayah selatan Lebanon.

Data Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sejak 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan 4.333 orang dan melukai 12.236 lainnya. Angka ini menunjukkan betapa masifnya skala kekerasan yang terjadi, jauh melampaui narasi "operasi terbatas" yang kerap disampaikan militer Israel.

Pasukan Israel dilaporkan telah maju lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon dalam operasi terbaru mereka. Pergerakan ini mempertegas bahwa keberadaan pasukan Israel di Lebanon selatan bukan sekadar operasi lintas batas, melainkan pendudukan teritorial yang sistematis.

Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam kunjungannya ke Ankara pada Kamis (30/7) bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Aoun menegaskan tekad pemerintahannya untuk memastikan penarikan penuh Israel dari seluruh wilayah Lebanon, pemulangan warga yang mengungsi, serta penguatan kedaulatan negara.

Erdogan menyatakan kesiapan Turki untuk bergabung dalam kekuatan apa pun yang menjamin stabilitas dan keamanan kawasan, termasuk kekuatan alternatif di Lebanon. Ia juga menjamin dukungan berkelanjutan bagi Angkatan Bersenjata Lebanon dan kesiapan membantu rekonstruksi Lebanon selatan.

Pemimpin Druze Lebanon Walid Jumblatt justru mengkritik keras kesepakatan Lebanon-Israel yang baru. Menurutnya, perjanjian itu tidak mengatur penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan, melainkan hanya menyebut "pengerahan ulang" yang ia sebut sebagai jebakan besar.

Bagi Indonesia, eskalasi di Lebanon selatan ini relevan dengan komitmen panjang dalam misi perdamaian PBB. Pasukan Garuda telah lama berkontribusi di UNIFIL di Lebanon selatan, dan keberadaan mereka kini berada di tengah zona konflik yang semakin kompleks.

Ke depan, situasi ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas dan memperlemah kredibilitas mediasi internasional. Tanpa mekanisme penegakan yang kuat, perjanjian gencatan senjata akan terus menjadi dokumen tanpa implementasi, sementara warga sipil kembali menjadi korban utama.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting bagi Indonesia karena menegaskan kembali rapuhnya arsitektur perdamaian di Timur Tengah yang selama ini menjadi perhatian politik luar negeri Indonesia. Pasukan Garuda yang tergabung dalam UNIFIL beroperasi di wilayah yang sama dan menghadapi risiko keselamatan yang meningkat. Eskalasi ini juga mengirim sinyal bahwa perjanjian internasional tanpa mekanisme penegakan yang kuat akan mudah dilanggar, pelajaran berharga bagi upaya diplomasi Indonesia. Selain itu, kehancuran situs warisan budaya seperti Kastil Beaufort menyiratkan ancaman nyata terhadap pelestarian sejarah kemanusiaan di zona konflik.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
31 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit