Internasional

Israel Suplai Senjata ke Argentina Saat Perang Falkland Melawan Inggris

Ringkasan

  • Israel suplai rudal dan jet ke Argentina lewat Peru saat Perang Falkland 1982 lawan Inggris senilai US$1 miliar.

Dokumen rahasia yang telah dibuka ke publik memastikan bahwa Israel mengirimkan persenjataan ke Argentina selama Perang Malvinas 1982 melawan Inggris melalui perantara Peru. Bantuan itu mencakup rudal udara-ke-udara, radar peringatan dini, hingga pesawat tempur Nesher, dan total nilai ekspor senjata Israel ke rezim Junta mencapai sekitar US$1 miliar.

Keterlibatan Israel dalam konflik tersebut kembali jadi sorotan setelah tensi Argentina dan Inggris meningkat di ajang Piala Dunia. Para pemain Argentina menebar pesan politik lewat spanduk 'Las Malvinas son Argentinas' di babak semifinal, sementara Kementerian Luar Negeri Argentina memprotes manuver kapal perang HMS Medway yang dianggap melintas di perairan teritorialnya tanpa pemberitahuan.

Perang Malvinas atau Falkland yang berkecamuk pada 1982 berakhir dengan kemenangan Inggris. Namun arsip The Falkland Island Association mengungkap bahwa Israel memasok alat pertahanan tambahan kepada Buenos Aires lewat jalur Peru. Suplai itu memberi Angkatan Udara Argentina waktu terbang lebih lama di atas kepulauan sengketa serta kemampuan deteksi rudal yang lebih baik pada pesawat Skyhawk.

Selain tangki bahan bakar kapasitas besar, Israel juga menjual jet tempur Nesher yang merupakan versi lokal dari Dassault Mirage 5 buatan Prancis. Pesawat yang direkondisi dari stok era 1970-an itu disertai suku cadang dan material militer lainnya selama pemerintahan Junta Militer (1976-1983). Nilai transaksinya menyentuh angka US$1 miliar dalam kurun waktu tersebut.

Pihak London mengetahui aktivitas tersebut sejak konflik berlangsung. Namun pejabat Inggris saat itu pesimistis bisa membujuk Tel Aviv menghentikan pasokan. Hubungan kedua negara sedang renggang akibat Perang Lebanon Pertama, ditambah dendam historis Perdana Menteri Menachem Begin terhadap Inggris.

Begin pernah memimpin milisi Zionis Irgun saat masa Mandat Inggris di Palestina dan mengumumkan pemberontakan terhadap London pada 1944. Organisasi itu bertanggung jawab atas serangan Hotel King David yang menewaskan 91 orang. Begin juga menyimpan kebencian pribadi setelah eksekusi rekan Irgun, Dov Gruner, pada 1947.

Laporan tersebut mencatat bahwa intervensi Menteri Luar Negeri Inggris Geoffrey Howe tidak membuahkan hasil. Begin justru bersedia menjual peralatan intelijen sinyal untuk dipasang pada pesawat mata-mata Argentina. Langkah itu verbatim menunjukkan betapa dalamnya ketegangan diplomatik antara London dan Tel Aviv kala itu.

Hubungan Israel-Argentina memang kompleks. Argentina menaungi sekitar 180.000 warga Yahudi, komunitas terbesar ketujuh di dunia dan kedua di Amerika Selatan. Di bawah Juan Peron, Buenos Aires memberi suaka bagi tokoh Nazi namun baru menjalin diplomasi dengan Israel pada 1949. Selama Perang Kotor Junta, banyak warga Yahudi 'dihilangkan', tetapi Tel Aviv memilih mendukung rezim anti-komunis demi kepentingan strategis.

Kini ikatan itu menguat lagi lewat kedekatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Javier Milei. Netanyahu secara terbuka mendukung Argentina di Piala Dunia serta menyebut Milei sebagai sahabat terbaik Israel. 'Dia bintang sesungguhnya, membangun ekonomi lewat kebebasan pasar,' ujar Netanyahu. Pernyataan itu menegaskan aliansi ideologis yang melampaui batas olahraga.

Dari sudut geopolitik, bantuan senjata Israel ke Argentina mencerminkan bahwa sengketa Falkland tidak sekadar dua negara, melainkan melibatkan aktor eksternal dengan agenda sendiri. Jejak itu juga memperlihatkan bagaimana diplomasi olahraga kerap dipakai sebagai panggung klaim teritorial di masa kini.

Ke depan, rivalitas Argentina-Inggris berpotensi terus menyala setiap kali kedua tim bertemu di turnamen besar. Sementara itu, dokumen perang 1982 akan tetap jadi rujukan bagi pengamat militer dan sejarawan yang menelusuri jejak keterlibatan negara-negara ketiga dalam konflik kepulauan Atlantik Selatan.

Bagi pembaca di Tanah Air, kisah ini relevan karena menunjukkan betapa olahraga kerap jadi perpanjangan politik negara. Indonesia sendiri pernah menggunakan momen olahraga untuk protes diplomatik, seperti boikot ajang internasional di era Orde Baru. Masyarakat kita perlu memahami bahwa di balik spanduk di lapangan, ada memori konflik bersenjata yang belum selesai.

Mengapa Ini Penting

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, spanduk politik Argentina di Piala Dunia bukan sekadar euforia, melainkan sisa konflik bersenjata yang melibatkan kekuatan asing seperti Israel. Ini mengajarkan bahwa turnamen besar kerap jadi panggung sengketa teritorial yang berdampak pada hubungan diplomatik antarnegara. Industri siaran olahraga lokal perlu waspada terhadap politisasi ajang olahraga yang bisa memecah audiens. Ke depan, rivalitas semacam ini berpotensi memengaruhi jadwal, keamanan, dan komersial turnamen jika negara bersengketa bertemu.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit