Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa sejumlah pihak di Israel sengaja menggagalkan upaya diplomasi Washington dengan Teheran. Pengakuan itu ia sampaikan dalam wawancara berdurasi tiga jam di podcast The Joe Rogan Experience yang menjadi sorotan internasional.
Vance menuturkan, beberapa tokoh dalam sistem pemerintahan Israel memanipulasi opini publik di Amerika agar perang dengan Iran terus berlangsung tanpa batas waktu. Mereka lebih memilih konflik berkepanjangan ketimbang meraih tujuan strategis yang sudah ditetapkan. Tindakan tersebut dianggap Vance sebagai upaya untuk mengubah arah kebijakan luar negeri AS yang sedang dibangun oleh Presiden Donald Trump.
Ketegangan antara pendukung diplomasi dan kelompok yang ingin perang berlanjut bukanlah hal baru di Timur Tengah. Sejak konflik AS-Israel melawan Iran meningkat, Washington mencoba membuka jalur negosiasi demi menekan eskalasi militer. Namun, langkah itu mendapat resistensi dari pihak yang merasa kepentingannya terancam bila perdamian tercapai.
Menurut Vance, individu yang terkait dengan pejabat Israel mengatur kampanye tersembunyi untuk melemahkan posisinya dan tim negosiasi. Kampanye tersebut memanfaatkan pembocoran informasi kepada jurnalis serta serangan di media sosial. Tujuannya jelas: menggagalkan kesepakatan yang sedang diupayakan oleh pemerintahan Trump.
Ia juga mengungkap bahwa sekelompok orang dibayar oleh mantan staf kampanye Trump yang mendapat dana dari elemen tertentu di pemerintahan Israel. Orang-orang itu, kata Vance, menyerangnya secara kejam demi menghentikan proses diplomasi. Kemarahan wapres AS tersebut tersirat ketika ia melontarkan umpatan kasar dalam wawancara tersebut.
Bagi pembaca di Indonesia, gesekan politik dalam tubuh sekutu Amerika ini relevan karena Jakarta selama ini menempuh kebijakan luar negeri bebas aktif. Ketergantungan pada stabilitas Timur Tengah turut memengaruhi harga energi nasional. Melebarnya konflik akan berdampak pada impor minyak dan gas yang menjadi bagian dari kebutuhan domestik.
Indonesia tidak memiliki keterlibatan langsung dalam sengketa AS-Iran, namun posisinya sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar membuat isu ini sensitif. Pemerintah kerap menyerukan deeskalasi melalui forum multilateral seperti OKI dan PBB. Kegagalan diplomasi Barat kerap memicu volatilitas pasar yang pada akhirnya menyentuh ekonomi rakyat kecil di daerah.
Dibandingkan dengan situasi dalam negeri, manuver aktor asing yang menyusup ke opini publik juga pernah terjadi di Indonesia pada masa pemilu. Kampanye bayaran melalui media sosial bukan fenomena asing di ruang digital lokal. Perbedaannya, dalam kasus Vance, aktor asing diduga berasal dari negara sekutu sendiri.
"Ada beberapa orang di dalam sistem mereka yang memanipulasi dan mencoba mengubah opini publik Amerika untuk menjaga agar perang terus berlanjut tanpa batas waktu," ucap Vance mengutip pernyataan yang dilansir The New Arab. Ia menegaskan bahwa timnya mengetahui hal itu tanpa keraguan sedikit pun.
"Anda sudah menyaksikan kampanye yang sangat rahasia dan didanai dengan sangat baik untuk menggagalkan negosiasi," kata Vance merujuk pada laporan Al Jazeera. Ia menambahkan akan tetap melakukan apa yang benar bagi rakyat Amerika meski diserang habis-habisan.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Israel belum memberikan tanggapan atas klaim wapres AS tersebut. Ketidakresponsifan ini memperlihatkan betapa peliknya komunikasi internal di antara sekutu yang sejak lama dianggap solid. Bulan lalu, Vance bahkan sempat menegur pejabat Israel yang mengkritik diplomasi Washington secara terbuka.
Ke depan, kritik pedas Vance berpotensi memperlebar jarak antara Gedung Putih dan Tel Aviv dalam menentukan strategi regional. Jika negosiasi gagal total, harga komoditas global berisiko naik dan memicu ketidakpastian ekonomi di negara berkembang termasuk Indonesia. Masyarakat luas perlu memantau bagaimana Washington menyikapi pembangkangan sekutunya menjelang pemilu mendatang.