JERA, perusahaan pembangkit listrik terbesar Jepang, memulai kajian awal untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal Amerika Serikat guna memperluas operasi luar negeri dan memperlebar opsi pendanaan. Tiga sumber yang mengetahui langsung proses tersebut menyatakan langkah ini masih berupa studi kelayakan dan belum ada keputusan final mengenai waktu pelaksanaan atau skema penawaran umum perdana.
Perusahaan yang tidak tercatat di bursa ini dimiliki penuh oleh Tokyo Electric Power dan Chubu Electric Power. Selama ini JERA menempatkan Bursa Efek Tokyo sebagai opsi pencatatan utama. Namun, percepatan ekspansi internasional membuat manajemen mulai menjajaki keterlibatan lebih dalam dengan investor global, termasuk di Wall Street.
Dua dari tiga narasumber mengungkapkan JERA telah mempelajari kondisi pasar AS, permintaan investor, serta persyaratan regulasi yang berlaku. Seluruh informasi masih dirahasiakan karena bersifat sensitif dan belum dapat dipublikasikan secara resmi. JERA menolak memberikan komentar, begitu juga dengan kedua induk usahanya.
Langkah JERA tidak muncul tiba-tiba. Perusahaan sejak lama menyatakan niatnya untuk melantai di bursa demi menambah modal dan meningkatkan nilai korporasi. Tekanan dari investor institusi luar negeri yang ingin terlibat semakin kuat, sehingga perusahaan perlu memperluas jangkauan penawaran kepada mereka.
Kabar tentang pertimbangan pencatatan di AS pertama kali dilaporkan Reuters. Studi ini berada pada tahap sangat awal, tanpa kepastian mengenai valuasi pasar, struktur pencatatan, maupun jadwal IPO. JERA sendiri berpendapatan tahunan 3 triliun yen atau sekitar 18,48 miliar dolar AS dari aset senilai 10 triliun yen.
Kapasitas pembangkitan domestik JERA mencapai 59 gigawatt termasuk proyek yang masih dikembangkan, cukup untuk memasok sekitar 30 persen kebutuhan listrik Jepang. Perusahaan juga merupakan pembeli liquefied natural gas (LNG) terbesar di negara itu dengan volume penanganan 35 juta metrik ton per tahun.
Rencana investasi JERA cukup agresif. Mereka menyiapkan dana 5 triliun yen untuk periode fiskal 2024 hingga 2035 dan menargetkan laba bersih 350 miliar yen, naik dari 183,6 miliar yen pada fiskal 2025. Ekspansi rantai pasok LNG melalui investasi hulu, pengadaan, dan perdagangan banyak difokuskan ke Amerika Serikat.
Bagi pembaca di Indonesia, manuver JERA relevan karena perusahaan ini termasuk pemasok LNG yang sering berinteraksi dengan PT Pertamina serta pengembang pembangkit di dalam negeri. Masuknya modal JERA ke AS juga berpotensi mengubah peta harga dan ketersediaan LNG global yang berdampak pada biaya impor energi Indonesia.
Indonesia sendiri tengah mendorong transisi energi dengan mengundang investor asing di sektor panas bumi, surya, dan penyimpanan baterai. Berbeda dengan JERA yang mulai melirik Wall Street, BUMN energi lokal seperti PLN masih mengandalkan pendanaan domestik dan utang bilateral. Tren Jepang menuju pasar modal AS menunjukkan bahwa skala proyek energi masa depan sulit dibiayai hanya dari bursa lokal.
Nikkei melaporkan pada Juni bahwa JERA mempertimbangkan pembangunan pembangkit gas skala besar di AS untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik dari pusat data. Hal ini mempertegas betapa pentingnya operasi luar negeri bagi kelangsungan bisnis mereka di masa depan.
Pencatatan saham di AS akan memberi JERA fleksibilitas mendanai proyek energi raksasa serta meningkatkan profil di mata investor global. Saham yang likuid juga bisa dijadikan alat barter dalam transaksi akuisisi antarperusahaan. JERA menyusul sejumlah firma Jepang lain yang tahun ini merambah pasar modal AS.
PayPay yang didukung SoftBank Group telah melantai di Nasdaq. Kioxia, produsen chip memori, sedang menyiapkan American depositary shares. Reuters tahun lalu juga melaporkan unit Rakuten Card milik Rakuten Group mengkaji pencatatan di AS. Gelombang ini mencerminkan pergeseran strategi korporasi Jepang yang bisnisnya semakin mengglobal.
Ke depan, JERA kemungkinan akan memperdalam studi regulasi Securities and Exchange Commission sebelum menentukan langkah nyata. Jika terealisasi, pencatatan di AS dapat menjadi templat bagi perusahaan energi Asia lain yang butuh modal besar untuk ekspansi lintas benua.