Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyepakati langkah baru di bidang pertahanan dengan melibatkan militer Jerman dalam latihan nuklir Prancis untuk pertama kalinya sebelum akhir tahun ini. Pengumuman itu disampaikan Jumat pekan ini di sebuah konferensi pers bersama di dekat Cologne, Jerman, sebagai bagian dari strategi pencegahan atau deterrence yang mereka sebut bisa berkembang menjadi doktrin keamanan baru di Eropa.
Merz menegaskan bahwa partisipasi pasukan konvensional Jerman dalam latihan yang digelar angkatan bersenjata Prancis tersebut dilakukan bertahap. Ia belum mau menyebutnya sebagai doktrin resmi, namun membuka kemungkinan arah kebijakan tersebut berubah seiring dinamika keamanan benua Eropa. "Kami akan memiliki pasukan konvensional Jerman yang berpartisipasi dalam latihan nuklir yang dilakukan angkatan bersenjata Prancis sebelum akhir tahun ini," ujar Merz.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai komitmen keamanan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Washington telah mengisyaratkan pemotongan sejumlah aset militer yang ditempatkan untuk operasi NATO di Eropa. Trump sendiri kerap mengkritik aliansi keamanan transatlantik tersebut, memicu kekhawatiran negara-negara Eropa akan ketergantungan mereka pada payung nuklir AS.
Selama ini, senjata nuklir Amerika disimpan di Jerman sebagai bagian dari sistem deterrence NATO, dan jet tempur Jerman telah bersertifikat untuk membawa senjata tersebut dalam kondisi darurat. Namun, pemimpin-pemimpin Jerman sebelumnya menolak tawaran kerja sama nuklir dengan Prancis. Merz mengatakan dunia saat ini menuntut jawaban baru terhadap ancaman yang berkembang.
Prancis merupakan satu-satunya negara bersenjata nuklir di Uni Eropa sejak Britania Raya keluar dari blok tersebut pada 2020. Macron menyebut Jerman akan memainkan peran terdepan dalam upaya pencegahan yang krusial bagi keamanan kolektif Eropa. Kerja sama itu mencakup penjelasan sebagian cara operasi, berbagi praktik tertentu, latihan gabungan, hingga pengembangan inisiatif dan kemitraan militer.
Macron menambahkan bahwa penguatan deterrence nuklir tidak akan melibatkan pendanaan dari Jerman. Sebagai simbol awal kerja sama, jet Rafale Prancis dan Eurofighter Jerman telah melakukan latihan pengisian bahan bakar di udara pada Kamis lalu. Rafale dirancang untuk membawa senjata nuklir, sementara Eurofighter merupakan tulang punggung udara Jerman yang sedang membesar.
Pada Maret, Macron mengumumkan penambahan arsenal nuklir Prancis dan mengundang mitra Eropa memperkuat kerja sama deterrence. Selain Jerman, sejumlah negara menyatakan minat, termasuk Britania Raya, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, Denmark, dan Norwegia. Keikutsertaan Jerman sangat strategis karena negara itu sedang menjalankan rencana rearmamen besar untuk membangun kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa pada 2039.
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini relevan sebagai cerminan bagaimana negara-negara menengah mulai merancang otonomi strategis ketika aliansi tradisional terlihat goyah. Indonesia tidak memiliki senjata nuklir dan berpegang pada Traktat Non-Proliferasi Nuklir serta zona bebas senjata nuklir Asia Tenggara. Namun, kecenderungan negara besar membangun kerja sama pertahanan eksklusif dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik, termasuk saat terjadi ketegangan di Selat Taiwan atau Laut Cina Selatan.
Dari sudut pandang teknologi militer, kolaborasi Prancis-Jerman mencakup integrasi sistem pesawat tempur, komando, dan latihan bersama yang membutuhkan interoperabilitas tinggi. Hal serupa terjadi di Asia melalui kerja sama pertahanan antara Amerika, Jepang, dan Australia. Indonesia sendiri mengembangkan kemandirian alat utama sistem senjata melalui program Pengembangan Teknologi Industri Pertahanan, namun belum menyentuh ranah nuklir.
Merz menekankan kerja sama dengan Prancis tidak menggantikan payung nuklir NATO yang masih dipegang teguh Jerman. "Ini melengkapi komitmen kami pada berbagi nuklir dan pengaturan deterrence NATO yang terus kami pertahankan," kata dia. Pernyataan itu penting untuk meredam kekhawatiran bahwa Eropa akan terpecah dalam menanggapi ancaman Rusia.
Macron menilai kepercayaan antartim, pakar, dan personel militer akan terbentuk melalui latihan bersama yang direncanakan. Ia memastikan negara-negara lain di Uni Eropa dapat bergabung jika memenuhi syarat keamanan yang ditetapkan Paris dan Berlin. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa Prancis siap memimpin arsitektur keamanan Eropa tanpa menunggu Washington.
Ke depan, latihan nuklir gabungan pada tahun ini akan menjadi uji coba nyata pertama. Jika berjalan lancar, doktrin deterrence bersama dapat diperluas ke negara Eropa lain dan memicu restrukturisasi komando militer di benua tersebut. Tren otonomi pertahanan Eropa diprediksi bertambah kuat seiring berkurangnya kepastian dari Amerika, dan hal itu akan mengubah peta aliansi keamanan global dalam satu dekade mendatang.