Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus mendorong pemerintah daerah Kalimantan mengubah wilayah tersebut menjadi pusat pengembangan energi rendah karbon melalui inovasi, pengolahan sumber daya, dan teknologi berkelanjutan guna menghasilkan nilai tambah ekonomi dan lingkungan. Menurutnya, posisi strategis Kalimantan sebagai salah satu lumbung energi nasional harus dimanfaatkan untuk membangun sistem energi yang lebih maju, tidak hanya berorientasi pada pengambilan sumber daya alam tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan.
Kalimantan saat ini dikenal sebagai kawasan yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari batu bara, minyak, gas, hingga potensi energi terbarukan seperti hidro dan biomassa. Wiyagus menekankan bahwa wilayah ini tidak boleh sekadar menjadi tempat pengambilan sumber daya, tetapi harus berkembang menjadi pusat penciptaan nilai tambah, inovasi energi, industri pengolahan, dan teknologi rendah karbon. Transformasi sektor energi dianggap sebagai bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, dan pemerintah daerah di Kalimantan diminta mengambil peran strategis untuk memastikan pemanfaatan sumber daya energi berjalan efektif sambil menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pemerintah pusat terus mengembangkan kebijakan diversifikasi energi, termasuk peningkatan penggunaan campuran biodiesel sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor serta memperkuat pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri. Pengembangan energi, kata Wiyagus, tidak cukup hanya dilihat dari sisi produksi, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, inovasi, dan penerapan teknologi ramah lingkungan. Daerah penghasil energi harus mendapatkan manfaat pembangunan yang lebih besar melalui pengembangan industri pengolahan dan inovasi berbasis energi.
Wiyagus mengingatkan pemanfaatan sumber daya alam harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan, karena pembangunan yang mengabaikan aspek keberlanjutan dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang. Pemerintah daerah bersama DPRD, menurutnya, memiliki tanggung jawab memastikan kebijakan energi berjalan seimbang antara kebutuhan pembangunan dan perlindungan lingkungan, sehingga pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya energi juga diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara adil. Ia yakin Kalimantan mampu menjadi salah satu kawasan penting dalam transisi energi nasional melalui pengembangan teknologi rendah karbon. Dengan pendekatan tersebut, sektor energi tidak hanya menjadi sumber penerimaan daerah, tetapi juga penggerak pembangunan berkelanjutan.
Dari perspektif Indonesia, dorongan ini sejalan dengan target nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan bauran energi terbarukan. Kalimantan memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada target tersebut, terutama melalui pengembangan proyek-proyek energi ramah lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga air, biomassa, dan energi surya. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kebutuhan akan investasi besar, hingga pentingnya melibatkan masyarakat lokal agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan.
Kutipan Wamendagri tersebut mendapat sambutan positif dari kalangan industri dan akademisi. Seorang pengamat energi dari Universitas Lambung Mangkurat menyatakan bahwa perubahan paradigma dari eksploitasi sumber daya menjadi pengolahan bernilai tambah dapat meningkatkan pendapatan daerah secara signifikan. Sementara itu, Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk mewujudkan visi tersebut.
Ke depan, diharapkan akan muncul roadmap konkret yang melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah, dan investor swasta. Beberapa langkah yang mungkin diambil meliputi peningkatan penelitian dan pengembangan teknologi rendah karbon, penyediaan insentif fiskal untuk proyek-proyek ramah lingkungan, serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik modern dan fasilitas penyimpanan energi. Dengan demikian, Kalimantan tidak hanya menjadi lumbung energi, tetapi juga model pengembangan energi berkelanjutan bagi seluruh Indonesia.