Api yang melanda kawasan gambut dan hutan pinus di Taman Alam Hautes Fagnes, dekat perbatasan Jerman, telah meluas drastis dari 80 hektare pada Jumat (14/8) menjadi 3.000 hektare pada Minggu pagi (16/8). Lebih dari 250 pemadam kebakaran dan personel darurat dikerahkan sepanjang malam, namun api masih belum terkendali sepenuhnya hingga kini.
Pemerintah wilayah Wallonia menyatakan kondisi di lapangan tetap menantang. Angin yang sering berubah arah mempersulit upaya pemadaman, sementara medan rawa gambut dan jalan kayu tinggi (boardwalk) menghalangi kendaraan berat untuk mendekati titik api. Tim penyelamat pun belum bisa mengakses titik awal kebakaran, sehingga penyebabnya masih tidak diketahui.
Sejarah mencatat kawasan ini pernah dilanda kebakaran masif pada 1911, saat gelombang panas dan kekeringan serupa melanda Eropa. Kebakaran kali ini dicatat sebagai yang terbesar sejak lebih dari satu abad lalu. Asap tebal berwarna kekuningan menutupi seluruh area perbatasan, memaksa evakuasi warga dari dua desa terdekat, meski hingga kini tidak ada rumah yang rusak.
Keterbatasan akses darat memaksa otoritas mengandalkan serangan udara. Helikopter polisi federal Belgia dan pesawat dari Belanda terlihat beroperasi sejak pagi Minggu, menarik air dari danau terdekat. Dukungan tambahan akan tiba dari Republik Ceko dan Swedia melalui mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa, sementara Norwegia dan Jerman juga menawarkan bantuan.
Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengucapkan terima kasih kepada mitra Eropa lewat platform X. Komisioner Eropa Hadja Lahbib menegaskan solidaritas blok tersebut dalam menghadapi bencana iklim. Petani lokal pun turut serta dengan menyediakan tangki air untuk mendukung operasi pemadaman.
Gelombang panas terbaru yang melanda Eropa Barat menjadi katalis utama. Suhu mencapai 37 derajat Celcius di beberapa wilayah Belgia pada Jumat lalu, menciptakan kondisi sangat kering yang memudahkan api menyala dan berkembang cepat. Fenomena ini selaras dengan tren pemanasan global yang membuat musim panas semakin ekstrem dan panjang.
Bagi Indonesia, peristiwa ini mengingatkan pada kebakaran lahan gambut yang rutin melanda Sumatera dan Kalimantan setiap musim kemarau. Meskipun skala 3.000 hektare masih jauh di bawah kebakaran 2015 yang melahap 2,6 juta hektare, tantangan teknis di Belgia — medan rawa, akses terbatas, dan ketergantungan pada serangan udara — mirip dengan yang dihadapi tim Manggala Agni di hutan gambut dalam negeri.
Belgia tidak memiliki pesawat pemadam kebakaran khusus (water bomber) sendiri, sehingga bergantung sepenuhnya pada helikopter polisi dan bantuan internasional. Indonesia sendiri baru-baru ini memperkuat armada udara dengan pembelian pesawat AT-802F Fire Boss dan Bell 412EP, namun jumlahnya masih terbatas dibandingkan luas area rawan api. Kolaborasi lintas negara seperti yang dilakukan UE bisa jadi model untuk kerjasama ASEAN yang lebih efektif.
Pakar iklim memperkirakan frekuensi kebakaran ekstrem akan meningkat seiring naiknya suhu global. Laporan IPCC menunjukkan wilayah Eropa Utara dan Tengah akan mengalami kekeringan lebih parah. Di sisi lain, Indonesia harus waspada terhadap fenomena El Niño yang berpotensi memperparah musim kemarau tahun depan.
Langkah selanjutnya bagi Belgia adalah evaluasi sistem deteksi dini dan pengelolaan bahan bakar di kawasan gambut. Pemulihan ekosistem Hautes Fagnes butuh dekade, mengingat gambut tumbuh sangat lambat. Sementara itu, mekanisme solidaritas UE yang berfungsi cepat kali ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi regional sudah berjalan — pelajaran berharga bagi negara-negara ASEAN dalam menghadapi bencana transnasional.