Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, dilaporkan terus meluas hingga mencapai area seluas 15 hektare. Kondisi cuaca ekstrem dengan suhu panas yang tinggi serta embusan angin kencang menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api ke berbagai titik di lokasi pembuangan sampah tersebut.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto, menegaskan bahwa tim di lapangan terus berupaya keras memadamkan api. Selain pengerahan personel pemadam kebakaran, pihak otoritas juga menggunakan alat berat berupa ekskavator untuk membongkar tumpukan sampah agar titik api yang tersembunyi di dalam timbunan dapat dijangkau dan dipadamkan secara lebih efektif.
Untuk mempercepat proses pemadaman, BNPB telah mengerahkan dua unit helikopter water bombing jenis MI-8AMT. Setiap helikopter mampu mengangkut 4.000 liter air untuk menjatuhkan air dari udara ke pusat titik api yang sulit dijangkau oleh petugas di darat. Opsi modifikasi cuaca juga disiapkan sebagai langkah cadangan jika kondisi api tidak kunjung mereda dalam waktu dekat.
Dampak kesehatan akibat bencana ini mulai dirasakan oleh masyarakat sekitar. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 154 warga telah terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia menjadi yang paling terdampak oleh kepulan asap pekat yang menyelimuti wilayah tersebut.
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyatakan bahwa pihaknya telah merujuk sejumlah warga ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif, termasuk seorang ibu hamil yang mengalami gangguan pernapasan. Sebagai langkah darurat, empat posko kesehatan telah didirikan di sekitar lokasi TPA dengan menyiagakan 25 tenaga medis yang bekerja secara bergantian selama 24 jam.
Selain Kecamatan Mauk, dampak sebaran asap juga mulai dirasakan di wilayah Rajeg dan Sukadiri. Sebagai langkah antisipasi, seluruh Puskesmas di Kabupaten Tangerang kini diinstruksikan untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah ini diambil untuk memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap siaga jika arah angin berubah dan menyebabkan sebaran asap meluas ke pemukiman warga lainnya.