Teknologi

Kebijakan E20 India: Efisiensi Bensin Drop, Pemilik Mobil Mengeluh

Ringkasan

  • Pemerintah India mewajibkan bensin E20 di seluruh pompa sejak 2025 guna kurangi impor minyak, memicu kemarahan pemilik kendaraan akibat efisiensi bahan bakar turun lebih 10%.

Krishna Kumar, seorang pegawai bank di New Delhi, tidak menyangka kunjungan rutinnya ke stasiun bensin beberapa bulan lalu berubah menjadi pengalaman yang merugikan. Selepas mengisi tangki dengan bensin E20 yang kini menjadi satu-satunya pilihan di banyak pompa, sedan miliknya kehilangan responsivitas dan konsumsi BBM memburuk.

Pengamatan Kumar sejalan dengan keluhan jutaan pemilik kendaraan di India. Mobil yang sebelumnya mencatatkan jarak tempuh 18–20 kilometer per liter kini hanya mampu mencapai 16–17 kilometer per liter, penurunan efisiensi lebih dari 10%. Akselerasi melambat terutama saat mendaki atau menyalakan pendingin udara. Perubahan tersebut terjadi tanpa perubahan gaya mengemudi; variabel tunggal yang berganti hanyalah komposisi bahan bakar.

Negara tersebut baru saja menyelesaikan salah satu transisi bahan bakar berbasis etanol tercepat di dunia. Melalui Kebijakan Nasional Biofuel, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi memajukan target campuran etanol 20% dari semula 2030 menjadi 2025. Sejak tahun lalu, E20 resmi wajib di seluruh stasiun pengisian. Sebelumnya, batas maksimal etanol dalam bensin India hanya 10%.

Langkah tergesa-gesa itu sempat memunculkan kekhawatiran sejak awal, namun panggilan untuk meninjau kebijakan mereda. Hingga Juni 2026, Jaksa Agung India menyatakan di Mahkamah Agung bahwa administrasi Modi sedang 'bereksperimen' dengan campuran 20% etanol. Pernyataan yang kemudian dibantah telah disalahpahami itu justru memicu kemarahan nasional, termasuk dari politikus oposisi dan analis yang biasanya mendukung pemerintah.

Pemerintah membela program tersebut dengan argumen pengurangan ketergantungan pada minyak mentah impor, peningkatan keamanan energi, penurunan emisi gas rumah kaca, serta penciptaan pendapatan petani melalui permintaan tebu dan jagung. Di sisi lain, Menteri Perhubungan Darat Nitin Gadkari mengakui penurunan mileage kendaraan. Oposisi menuduh Gadkari memiliki konflik kepentingan karena keluarganya terlibat dalam perusahaan produsen etanol.

Inti perdebatan kini bertumpu pada satu pertanyaan: mengapa peluncuran E20 dilakukan dengan kecepatan sedemikian tinggi? Kendaraan lama menjadi korban utama karena pabrik baru mulai memasang material kompatibel E20 pada 2023, dan model sepenuhnya patuh baru menyusul 2025. Pemerintah bersikeras kendaraan lama aman dipakai asal perawatan rutin, tetapi banyak pemilik ragu akan dampak jangka panjang.

Anas Khan, pengusaha di New Delhi, merasakan langsung efeknya pada Baleno 2021. Konsumsi BBM turun dari 18 km per liter menjadi hampir 15 km per liter, sementara akselerasi melambat di kemacetan kota. Pakar otomotif independen Sajad Ahmad Wani menjelaskan bahwa etanol mengandung energi per liter lebih rendah dari bensin murni, sehingga penurunan mileage wajar terjadi. Penggunaan berkelanjutan pada mesin tidak dirancang bisa mempercepat keausan selang karet, segel, dan komponen sistem bahan bakar.

Di Indonesia, isu ini memberikan catatan penting. Program biodiesel B35 untuk diesel telah berjalan dengan tantangan serupa terkait kompatibilitas mesin, sementara uji coba etanol untuk bensin masih terbatas pada tingkat rendah. Pengalaman India menunjukkan bahwa komunikasi publik dan edukasi pemilik kendaraan wajib dibangun sebelum kebijakan wajib dilaksanakan, agar masyarakat tidak terkejut dengan penurunan performa yang nyata.

Mekanik seperti Bilal Ahmad di India mulai menerima lebih banyak pelanggan yang mengeluhkan performa mesin. Kumar menekankan perlunya kesadaran akan dampak E20 pada kendaraan lama. 'Pemilik mobil harus diberi tahu secara layak supaya bisa mengambil keputusan tepat dan menghindari perubahan tak terduga,' ujarnya.

Wani menambahkan bahwa banyak pengemudi belum mengetahui status kompatibilitas kendaraan mereka. 'Produsen dan otoritas perlu berupaya lebih keras menjelaskan ekspektasi nyata setelah beralih ke E20,' kata dia. Pernyataan itu sejalan dengan tingginya ketidakpastian di kalangan konsumen yang merasa kebijakan berjalan tanpa panduan memadai.

Tekanan publik berpotensi memaksa pemerintah India untuk merevisi strategi peluncuran atau memberikan opsi bahan bakar campuran lebih rendah bagi kendaraan tua. Mahkamah Agung berpotensi meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai status 'eksperimen' tersebut. Produsen kendaraan dipastikan akan mempercepat produksi model ramah E20 guna meredam protes.

Bagi Indonesia, tren global menuju bahan bakar terbarukan tidak terbendung, namun kehati-hatian dalam penetapan mandat wajib menjadi kunci. Transisi yang terlalu agresif tanpa persiapan infrastruktur dan literasi konsumen berisiko memicu ketidakpercayaan publik, seperti yang terjadi di India. Langkah mengukur dampak secara transparan akan menentukan keberhasilan energi bersih di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Pengalaman India mengingatkan Indonesia bahwa transisi energi harus diiringi edukasi konsumen agar tidak memicu resistensi sosial. Kebijakan bahan bakar wajib yang agresif berisiko merusak kepercayaan publik terhadap program pemerintah, khususnya di negara dengan banyak kendaraan tua seperti Indonesia. Jika Indonesia mempercepat mandat etanol tanpa kajian dampak transparan, produsen otomotif lokal dan importir dapat menghadapi tuntutan garansi mesin. Lebih jauh, isu ini menunjukkan perlunya regulasi konflik kepentingan yang ketat saat pejabat berwenang memiliki afiliasi industri terkait.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit