Kolom Umum

Kekerasan Meledak di Banyak Negeri, Fondasi Kemanusiaan Kita Retak

Ringkasan

  • Kekerasan yang meledak di berbagai belahan dunia adalah cermin retak dari kegagalan kita mengelola konflik.
  • Saatnya kita memilih jalan menanam, bukan memusnahkan.

Dalam tiga hari terakhir, kita disuguhi rentetan peristiwa yang saling terhubung oleh satu benang merah: kekerasan. Bom meledak di minibus di Suriah, penembakan di sekolah Thailand, serangan rudal di Yaman, hingga ancaman militer yang terus diembuskan dari Washington. Kita mungkin tergoda untuk melihat ini sebagai berita-berita asing yang jauh dari keseharian. Tetapi jika kita jujur, semua itu adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita sendiri.

Kita hidup di era di mana kekerasan bukan lagi sekadar alat politik, tetapi telah menjadi bahasa universal yang dipahami semua pihak. Di Jaramana, pinggiran Damaskus, dua orang tewas bukan karena bencana alam, melainkan karena ketegangan politik yang gagal dikelola. Di Nonthaburi, Thailand, seorang pelajar mengambil senjata dan menembak teman-temannya sendiri. Ini bukan sekadar berita kriminal; ini adalah gejala dari masyarakat yang gagal menyediakan ruang untuk menyelesaikan konflik tanpa darah.

Saya tidak ingin merangkum semua peristiwa itu. Yang ingin saya soroti adalah pola yang lebih dalam: kekerasan selalu dimulai dari pembusukan kecil yang diabaikan. Di Thailand, pelajar yang menjadi tersangka adalah remaja yang seharusnya berada di bangku sekolah dengan mimpi dan harapan. Di Suriah, warga Druze yang hidup dalam ketakutan adalah komunitas yang telah berabad-abad menjaga harmoni. Ketika negara dan masyarakat gagal hadir sebagai penengah, maka ruang kosong itu diisi oleh senjata dan bom.

Peristiwa-peristiwa itu juga menunjukkan bahwa kekerasan tidak mengenal batas ideologi. Houthi menyerang markas militer di Yaman, Israel mendakwa pemukim ilegal atas pembunuhan aktivis Palestina, dan Amerika Serikat mengancam Iran sambil menawarkan kesepakatan. Di tengah semua itu, politikus pro-Palestina di Michigan menang tipis melawan kandidat yang didanai AIPAC. Ini bukan sekadar perebutan kekuasaan; ini adalah pergulatan tentang siapa yang berhak menentukan narasi perdamaian dan siapa yang dianggap sebagai musuh.

Di dalam negeri, kita tidak sedang menghadapi bom atau penembakan massal. Tetapi kita memiliki wacana yang tak kalah penting: Pilkada tanpa wakil kepala daerah. Wacana ini lahir dari kekhawatiran konflik internal yang sering menghambat pembangunan. Namun, menurut saya, ini adalah solusi yang keliru. Menghapus posisi wakil bukanlah jawaban atas konflik; justru kita perlu memperkuat mekanisme penyelesaian konflik yang sehat. Kita tidak boleh jatuh ke dalam logika yang sama dengan dunia yang sedang berdarah: menghilangkan ruang perdebatan untuk menghindari kekerasan.

Ada pelajaran yang bisa kita petik dari urban farming di Jakarta Timur yang panen 10 ton padi. Di tengah kekacauan global, ada orang-orang yang memilih untuk menanam, bukan memusnahkan. Mereka memanfaatkan lahan tidur untuk ketahanan pangan. Ini adalah bentuk perlawanan yang paling damai dan paling bermartabat terhadap kekacauan. Ketika dunia sibuk menghitung jumlah korban, mereka sibuk menghitung bulir padi yang tumbuh. Ini bukan sekadar soal pangan, tetapi soal cara kita memandang hidup: apakah kita ingin membangun atau menghancurkan?

Saya juga terpikir tentang 210 hari yang dihabiskan astronaut Shenzhou-21 di orbit. Mereka meninggalkan bumi yang sedang berantakan dan melihatnya dari kejauhan. Dari atas sana, tidak ada batas negara, tidak ada tembok, tidak ada garis demarkasi. Yang ada adalah planet biru yang sama. Mungkin kita perlu lebih sering mengambil perspektif itu: melihat dunia sebagai satu rumah bersama, bukan sebagai medan perang yang harus dimenangkan.

Di sisi lain, teknologi AI yang diklaim mampu berjalan di perangkat kecil seperti Raspberry Pi menunjukkan bahwa inovasi bisa menjadi alat untuk keadilan. Tetapi kita juga harus kritis: skor benchmark yang menyesatkan dari model AI besar adalah analogi dari kekuatan yang hanya mengejar angka, bukan dampak nyata. Kita harus belajar untuk mengukur keberhasilan bukan dari seberapa banyak yang kita hancurkan, tetapi dari seberapa banyak yang kita perbaiki.

Ke depan, kita harus berhenti menjadi penonton yang pasif. Setiap ledakan di Suriah, setiap tembakan di Thailand, adalah alarm yang berbunyi untuk kita semua. Kekerasan adalah kegagalan imajinasi untuk menemukan jalan lain. Kita perlu membangun budaya yang menghargai perbedaan, memperkuat ruang dialog, dan tidak mudah tergoda oleh godaan untuk menghancurkan demi mencapai tujuan.

Kita harus belajar dari kegagalan itu dan mulai menanam, bukan memusnahkan. Karena pada akhirnya, yang kita wariskan kepada generasi berikut bukanlah bom atau rudal, tetapi cara kita berpikir dan bertindak hari ini.

Mengapa Ini Penting

Kolom ini penting karena menawarkan perspektif yang menghubungkan peristiwa global dan lokal dalam satu benang merah: kekerasan sebagai gejala kegagalan sistem sosial. Di tengah berita yang berserakan, kita perlu berhenti dan merenungkan akar masalah, bukan sekadar terpaku pada dampak. Kolom ini juga mengajak pembaca untuk melihat solusi alternatif seperti urban farming sebagai bentuk ketahanan yang melawan arus kekerasan. Proyeksinya ke depan adalah bahwa tanpa pergeseran dari mentalitas memusnahkan ke membangun, kita akan terus berputar dalam siklus konflik yang tak berujung.

Sumber Asli
Redaksi
Tanggal
7 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit