Stok rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan Patriot milik Amerika Serikat di Timur Tengah telah mencapai tingkat kritis. Data terbaru dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menunjukkan AS telah mengonsumsi sekitar separuh inventaris THAAD dan sepertiga stok Patriot sejak konflik terbuka dengan Iran pecah enam bulan lalu.
Kondisi ini mengkhawatirkan perencana militer di Pentagon. Analis senior Timur Tengah RANE Network, Ryan Bohl, mengungkapkan bahwa banyak perencana pertahanan "sangat khawatir" soal keberlangsungan pasokan rudal kelas atas ke depannya. Ia menilai administrasi AS enggan mengandalkan sistem yang lebih sederhana karena risiko yang ditimbulkan pertahanan udara Iran.
Sebelum perang, inventaris AS mencatat 2.330 rudal Patriot. Per Juli ini, tersisa hanya 759 hingga 827 unit. Sementara untuk THAAD, dari 452 rudal pencegat awalnya, kini hanya tersisa 234 hingga 278 unit. Penyusutan ini terjadi dalam jangka waktu yang relatif singkat, mencerminkan intensitas pertempuran yang tidak terduga.
Kekurangan amunisi pertahanan udara ini bukan berarti AS kehabisan senjata sepenuhnya. Bohl menegaskan Washington tetap memiliki "persediaan bom konvensional yang nyaris tak terbatas" untuk menyerang Iran. Namun, bom-bom tersebut mengharuskan pesawat tempur seperti F-15 dan F-35 masuk ke area pertahanan udara Iran — risiko yang sudah terbukti nyata.
Bukti risiko tersebut terlihat dari kerugian yang sudah diderita. Satu unit F-15 telah ditembak jatuh, sedangkan F-35 — jet tempur generasi kelima termahal AS — tercatat terkena tembakan sistem pertahanan udara Iran. Kedua insiden ini memperkuat keengganan Pentagon untuk mengirimkan aset udara bernilai miliaran dolar ke zona ancaman padat.
Latar belakang eskalasi terbaru dimulai dari serangan rudal balistik Iran ke basis AS di Yordania. Komando Pusat AS (CENTCOM) meluncurkan balasan "kuat" pada Rabu (29/7) pukul 20.00 waktu setempat. Serangan balik ini menandai kembali berkobarnya konflik setelah periode hening sementara, memperparah tekanan pada cadangan rudal pencegat yang sudah menipis.
Dinamika ini menciptakan dilema strategis bagi Washington. Di satu sisi, AS harus melindungi personel dan aset di wilayah tersebut. Di sisi lain, setiap peluncuran rudal THAAD atau Patriot menguras cadangan yang sulit digantikan dalam jangka pendek. Produksi rudal baru memerlukan waktu tahunan, sedangkan permintaan global dari mitra NATO dan negara sahabat seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga terus meningkat.
Bagi Indonesia, situasi ini menawarkan pelajaran strategis penting. TNI AU saat ini mengandalkan sistem pertahanan udara berbasis Rusia (S-300/S-400) dan Barat (NASAMS, Skyshield), dengan program pengadaan yang masih bertahap. Kekurangan stok rudal di tengah konflik nyata menunjukkan betapa vitalnya independensi logistik dan diversifikasi sumber persediaan amunisi vital.
Kementerian Pertahanan RI telah memulai langkah menuju kemandirian melalui program rudal tanah-ke-udara binaan PT Pindad dan kolaborasi dengan MBDA untuk sistem VL MICA. Namun, pengalaman AS membuktikan bahwa bahkan superpower dengan basis industri pertahanan terbesar pun bisa kehabisan stok saat perang berlangsung lama. Indonesia harus memastikan cadangan minimum yang memadai sebelum krisis terjadi.
Ahli strategi pertahanan Universitas Indonesia, Bantarto Bandoro, menilai kasus AS ini sebagai "wake-up call" bagi negara menengah seperti Indonesia. "Kita tidak punya kemampuan produksi cepat seperti AS. Jika mereka saja kesulitan mengisi stok dalam hitungan bulan, bayangkan posisi kita," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Ke depan, CSIS memproyeksikan konflik yang berkepanjangan akan memaksa AS dan mitra koalisinya mengambil "risiko lebih besar" dalam operasi pencegatan. Opsi yang diamati meliputi penarikan sistem pertahanan dari teatro lain — seperti Eropa atau Pasifik — yang justru menciptakan celah keamanan di wilayah tersebut. Untuk Indonesia, ini menguatkan urgensi percepatan program Minimum Essential Force (MEF) alutsista pertahanan udara.