Berita

Keluarga dr. Icha Lapor Polda NTT Terkait Dugaan Intimidasi Anggota DPRD

Keluarga dr. Icha Lapor Polda NTT Terkait Dugaan Intimidasi Anggota DPRD

Ringkasan

  • Keluarga dr.
  • Icha melaporkan tiga anggota DPRD TTU ke Polda NTT atas dugaan intimidasi yang memicu depresi hingga almarhumah meninggal dunia.

Keluarga mendiang dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dr. Icha, secara resmi menyambangi Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat (3/7). Kedatangan mereka bertujuan untuk melaporkan dugaan intimidasi yang dilakukan oleh tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) terhadap almarhumah sebelum meninggal dunia.

Sebanyak tujuh anggota keluarga, termasuk kedua orang tua dan dua adik dr. Icha, tiba di Mapolda NTT, Kupang, sekitar pukul 11.10 WITA. Dalam suasana duka yang mendalam, pihak keluarga membawa serta bingkai foto dr. Icha sebagai simbol perjuangan mereka dalam mencari keadilan atas peristiwa tragis yang menimpa anggota keluarga mereka.

Pihak keluarga menduga bahwa dr. Icha memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena mengalami tekanan mental yang luar biasa. Berdasarkan keterangan keluarga, almarhumah menderita depresi berat serta gangguan psikologis yang dipicu oleh serangkaian tindakan intimidasi yang diduga terjadi pada 13 Juni 2026.

Dalam laporan resmi tersebut, keluarga menyebutkan tiga nama anggota DPRD Kabupaten TTU yang diduga terlibat dalam aksi intimidasi tersebut. Mereka adalah Therezius Lazakar dari Partai Golkar, Robert Tubani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta Veronika Lake dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Laporan ini menjadi sorotan publik karena melibatkan pejabat publik yang seharusnya menjadi representasi masyarakat. Pihak keluarga berharap agar pihak kepolisian dapat melakukan penyelidikan secara transparan dan mendalam terhadap tuduhan intimidasi yang diduga menjadi akar permasalahan psikologis yang dialami oleh dr. Icha.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih mendalami pengaduan tersebut untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Kasus ini kini menjadi perhatian luas di NTT, mengingat posisi para terlapor sebagai wakil rakyat yang memiliki tanggung jawab etis dan moral dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti pentingnya etika dan perlindungan hak asasi manusia dalam interaksi antara pejabat publik dengan masyarakat. Selain itu, insiden ini menjadi pengingat bagi instansi pemerintah untuk lebih memperhatikan kesehatan mental staf medis yang bekerja di bawah tekanan tinggi.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit