Pasukan militer Rusia kini menghadapi tantangan besar dalam upaya mereka menguasai wilayah Donetsk di Ukraina timur. Meski memiliki ambisi untuk merebut sisa 20 persen wilayah yang masih dalam kendali Ukraina sebelum akhir tahun, laporan terbaru menunjukkan bahwa target tersebut semakin sulit dicapai. Menurut catatan Kyiv, Rusia telah gagal memenuhi 14 tenggat waktu sebelumnya, dan dengan laju kemajuan saat ini, dibutuhkan waktu sekitar 14 tahun bagi pasukan Vladimir Putin untuk menyelesaikan misi tersebut.
Institute for the Study of War (ISW) mencatat adanya penurunan drastis dalam perolehan wilayah Rusia sepanjang tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025. Jika pada paruh pertama tahun 2025 Rusia berhasil menguasai 2.190 kilometer persegi, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya 622 kilometer persegi pada tahun ini. Penurunan ini menunjukkan bahwa efektivitas serangan Rusia telah melemah secara signifikan di tengah meningkatnya perlawanan Ukraina.
Data ISW juga menunjukkan bahwa rata-rata kemajuan harian Rusia turun dari 16,6 kilometer persegi pada awal 2025 menjadi hanya 1,03 kilometer persegi per hari di tahun 2026. Jika mempertimbangkan infiltrasi yang tidak stabil dan serangan balik Ukraina, keuntungan bersih Rusia pada semester pertama tahun 2026 tercatat hanya sebesar 97 kilometer persegi. Fakta ini menegaskan bahwa strategi militer Rusia tengah menghadapi kebuntuan yang serius di lapangan.
Di sisi lain, jumlah korban jiwa di pihak Rusia terus melonjak hingga ke tingkat yang dianggap katastrofik. Berdasarkan data dari Center for Strategic International Studies, total korban di pihak Rusia telah mencapai 1,4 juta orang sejak awal konflik. Pada bulan Juni saja, Rusia dilaporkan kehilangan 39.490 personel, jumlah yang jauh melampaui kapasitas rekrutmen bulanan mereka yang hanya berkisar antara 24.000 hingga 30.000 orang.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengaitkan keberhasilan negaranya tahun ini dengan keputusan strategis untuk meningkatkan produksi drone dan pengembangan rudal jarak jauh domestik. Melalui strategi yang disebut Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov sebagai 'Logistical Lockdown', Ukraina secara konsisten mengganggu jalur suplai bahan bakar dan amunisi Rusia di garis depan. Taktik asimetris ini terbukti mampu menekan laju agresi Rusia secara efektif.
Situasi ini memicu kekhawatiran yang kian meningkat di Moskow mengenai keberlangsungan perang jangka panjang. Dengan beban ekonomi dan sumber daya manusia yang semakin berat, posisi Rusia di medan tempur menjadi semakin rentan. Zelenskyy memperingatkan bahwa jika Putin terus mengirimkan lebih banyak tentara ke dalam konflik ini tanpa memperhitungkan kerugian yang masif, maka konsekuensi bagi stabilitas internal Rusia akan menjadi taruhan berikutnya.