Bisnis & Startup

Kementan dan Perhepi Bangun Ekosistem Wirausaha Pertanian untuk Generasi Muda

Ringkasan

  • Kementerian Pertanian bermitra dengan Perhepi melalui Seminar Nasional Kewirausahaan di Jakarta, Kamis, untuk membangun ekosistem wirausaha pertanian guna menarik minat generasi muda dan memastikan regenerasi pelaku usaha tani.

Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menggandeng Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) dalam upaya terstruktur menumbuhkan minat anak muda berwirausaha di sektor pertanian. Kolaborasi itu dikukuhkan melalui Seminar Nasional Kewirausahaan yang digelar di Jakarta, Kamis, sebagai langkah konkret menciptakan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa seminar ini dirancang agar ketiga pilar tersebut — birokrasi, akademisi, dan praktisi — dapat bersinergi menciptakan ekosistem kewirausahaan pertanian yang berkelanjutan. Tanpa kolaborasi yang erat, upaya regenerasi pelaku usaha tani justru berisiko terjebak dalam program-program terfragmentasi.

Latar belakang inisiatif ini tidak terlepas dari demografi petani Indonesia yang terus menua. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan usia rata-rata petani telah menyentuh 54 tahun, sementara angka partisipasi tenaga kerja muda di sektor pertanian terus merosot selama dekade terakhir. Kondisi ini menciptakan ancaman nyata bagi ketahanan pangan jangka panjang jika tidak segera diimbangi regenerasi yang berkualitas.

Di sisi lain, laporan lapangan yang dikumpulkan Perhepi dari berbagai daerah justru menunjukkan gejala positif: minat kalangan muda terhadap pertanian mulai membesar kembali. Fenomena ini didorong oleh kesadaran akan potensi ekonomi sektor ini, serta hadirnya teknologi digital yang membuat pertanian modern lebih aksesibel dan menjanjikan bagi generasi milenial dan Gen Z.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhepi, Nunung Nuryartono, mengakui tren ini dan menilai pemerintah harus responsif dengan menyusun program pendukung yang tepat sasaran. "Saya kira ini akan menciptakan satu ekosistem untuk menjadikan pertanian kita menjadi lebih baik, lebih kuat, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan bagi bangsa," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa antusiasme muda tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa pembimbingan kebijakan.

Idha menambahkan bahwa peran akademisi melalui Perhepi krusial dalam menyusun "policy brief" berbasis penelitian. Risalah kebijakan tersebut diharapkan menjadi landasan pengambilan keputusan pemerintah, agar insentif, skema pembiayaan, dan regulasi benar-benar menyentuh kebutuhan nyata wirausahawan muda di lapangan — bukan sekadar program seremonial.

Dampak strategis kolaborasi ini melampaui sekadar peningkatan jumlah petani muda. Jika berhasil, ekosistem wirausaha pertanian yang kuat akan memicu inovasi berbasis teknologi — dari pertanian presisi, e-commerce hasil tani, hingga pengolahan downstream yang menambah nilai tambah. Hal ini selaras dengan visi transformasi pertanian dari subsisten ke komersial modern.

Bagi startup agritech lokal, kehadiran kebijakan pendukung ini menciptakan peluang ekspansi pasar. Lebih banyak anak muda yang masuk sebagai pengusaha pertanian berarti basis pengguna layanan digital — seperti platform pinjaman modal, marketplace hasil panen, dan aplikasi manajemen lahan — akan semakin luas. Ekosistem startup pertanian Indonesia yang relatif muda ini butuh massa kritis pelaku usaha untuk tumbuh berkelanjutan.

Namun, tantangan nyata tetap ada di lapangan. Akses lahan, ketersediaan modal usaha, dan ketidakpastian harga komoditas tetap menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan seminar. Program regenerasi harus terintegrasi dengan reformasi agraria, skema asuransi pertanian yang inklusif, dan jaminan pasokan input produksi yang terjangkau.

Ke depan, Kementan dan Perhepi diharapkan menerjemahkan momentum seminar ini ke dalam rancangan kebijakan konkret: kurikulum kewirausahaan pertanian di perguruan tinggi, inkubator bisnis di tingkat daerah, serta skema pendanaan berkelanjutan yang tidak bergantung pada anggaran belanja modal (APBN) semata. Keberhasilan regenerasi akan diukur bukan dari jumlah peserta pelatihan, tapi dari bertahan dan berkembangnya usaha pertanian milik muda itu sendiri.

Jika ekosistem ini terbangun dengan baik, Indonesia tidak hanya mengamankan regenerasi petani, tapi juga menciptakan generasi baru penggerak ekonomi desa yang cerdas teknologi, berorientasi pasar, dan mampu mengubah pertanian dari sektor "tertinggal" menjadi motor pertumbuhan inklusif. Itulah taruhan jangka panjang dari kolaborasi Kementan dan Perhepi hari ini.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi Kementan-Perhepi menjawab krisis demografi petani Indonesia yang usia rata-ratanya 54 tahun. Lebih dari sekadar seminar, inisiatif ini berpotensi membuka pintu kebijakan terintegrasi — dari akses lahan, skema pembiayaan, hingga kurikulum kewirausahaan — yang selama ini terpecah. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya mengamankan ketahanan pangan, tapi menciptakan kelas baru pengusaha pertanian berbasis teknologi yang bisa menggerakkan ekonomi desa dan memanfaatkan demographic bonus. Kegagalan regenerasi berarti ketergantungan impor pangan akan semakin dalam di era ketidakpastian iklim dan geopolitik.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit