Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melalui Direktur Pelindungan WNI Heni Hamidah mengeluarkan imbauan resmi bagi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi untuk meningkatkan kewaspadaan. Langkah ini diambil menyusul serangkaian peringatan darurat yang dikeluarkan otoritas Keamanan Sipil Saudi Arabia terkait potensi ancaman di wilayah Mekkah, Jeddah, dan Taif.
Peringatan paling terbaru dirilis pada Selasa (15/9), tepat sehari setelah koalisi pimpinan Saudi melaporkan 13 warga sipil terluka akibat serangan rudal dan drone yang menargetkan Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Otoritas Saudi meminta masyarakat tetap di dalam bangunan, menjauhi area terbuka serta kerumunan, dan hanya mengikuti informasi melalui saluran resmi.
Menurut Heni, situasi darurat tersebut dinyatakan berakhir oleh Saudi Civil Defense pada Rabu (16/9) pagi, sehingga warga diperbolehkan kembali beraktivitas normal sambil tetap memperhatikan arahan resmi. "Hingga saat ini, tidak terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak," tegasnya.
Insiden terbaru terjadi pada Selasa pukul 18.50 waktu setempat, ketika pertahanan udara koalisi berhasil menembak jatuh sebuah drone yang diduga diluncurkan oleh kelompok Houthi dari Yaman. Puing-puing drone tersebut jatuh di area selatan Mekkah. Juru bicara koalisi, Turki Al Maliki, menegaskan ini merupakan upaya kedua Houthi menargetkan kota suci tersebut setelah insiden serupa pada Juli 2017.
Al Maliki menegaskan keamanan Dua Masjid Suci dan para jemaah merupakan "garis merah" yang tidak boleh dilanggar. Koalisi bersumpah akan mengambil langkah-langkah tegas guna mencegah serangan serupa di masa depan. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pun mengeluarkan kecaman keras, menilai peluncuran drone tersebut melanggar kesucian Mekkah dan Madinah serta memancing sentimen umat Islam global.
Perwakilan Republik Indonesia di Arab Saudi, baik KBRI Riyadh maupun KJRI Jeddah, terus memantau perkembangan situasi secara real-time dan berkoordinasi intensif dengan otoritas setempat. Kedutaan juga menyebarkan nomor darurat: Hotline KBRI Riyadh +966 569173990 dan Hotline KJRI Jeddah +966 50 360 9667 untuk WNI yang membutuhkan bantuan.
Escalasi ketegangan di wilayah barat Arab Saudi ini bukan hal baru. Sejak 2015, koalisi pimpinan Saudi terlibat konflik bersenjata melawan Houthi yang menguasai bagian utara Yaman. Serangan balasan Houthi ke wilayah Saudi — termasuk fasilitas minyak dan kota-kota besar — terjadi berkala, meski jarang menargetkan area sekitar Mekkah secara langsung.
Bagi Indonesia, stabilitas Arab Saudi memiliki signifikansi strategis ganda. Negara tersebut merupakan tujuan utama ibadah haji dan umrah bagi ratusan ribu warga Indonesia setiap tahun, serta tempat kerja bagi puluhan ribu TKI yang tersebar di berbagai sektor. Ketidakstabilan keamanan, apalagi di kota-kota suci, berpotensi mengganggu alur keberangkatan jemaah serta mengancam keselamatan pekerja migran.
Kemlu telah mengantisipasi risiko semacam ini melalui protokol perlindungan WNI yang terstruktur. Penyebaran informasi melalui media sosial resmi, grup komunitas WNI, serta kerja sama dengan majelis taklim dan organisasi masyarakat Indonesia di Arab Saudi menjadi saluran utama untuk memastikan imbauan keselamatan sampai ke tingkat individu.
Di sisi lain, insiden ini menyoroti kerentanan keamanan di Timur Tengah yang terus bergolak. Dinamika konflik Yaman, rivalitas regional, dan keterlibatan aktor non-negara seperti Houthi menciptakan ketidakpastian jangka panjang. Bagi pemerintah Indonesia, diplomasi multilateral melalui OKI dan forum-forum Islam lainnya menjadi instrumen penting untuk mendorong de-escalation.
Masyarakat Indonesia, terutama calon jemaah haji dan umrah serta keluarga TKI, diharapkan tidak panik namun tetap alert. Mengikuti akun resmi KBRI dan KJRI, menyimpan nomor darurat, serta menghindari menyebarkan informasi tidak terverifikasi adalah langkah praktis yang efektif. Kemlu menegaskan komitmen melindungi WNI di mana pun mereka berada tetap menjadi prioritas utama.