Ketika penggemar membuka rak di toko permainan retro, mereka sering menemukan deretan konsol klasik Nintendo. Namun, deretan game GameCube biasanya kosong. Ketika judul-judul seperti Super Smash Bros. Melee atau Eternal Darkness muncul, harganya bisa membuat kaget, mencapai ratusan ribu rupiah. Fenomena ini bukan sekadar nostalgia, tetapi hasil dari dinamika pasar yang unik.
GameCube memiliki salah satu katalog game terbaik Nintendo, dengan judul-judul legendaris seperti Metroid Prime, The Legend of Zelda: The Wind Waker, dan Super Smash Bros. Melee. Bahkan game Mario utama seperti Super Mario Sunshine masih memiliki basis penggemar yang kuat. Faktor 'pajak Nintendo'—kecenderungan game Nintendo untuk mempertahankan nilai—memperburuk permintaan di kalangan kolektor yang siap membayar premium.
Di sisi pasokan, GameCube terjual sekitar 21,74 juta unit, jauh di bawah pendahulunya Nintendo 64 (32,93 juta) dan penerusnya Wii (101,63 juta). Beberapa alasan berkontribusi: GameCube tidak dapat memutar DVD, fitur yang penting sebelum era streaming; konsol Sony dan Microsoft lebih menarik bagi remaja dan dewasa, sehingga Nintendo terikat pada ceruk ramah keluarga; dukungan pihak ketiga juga lebih lemah, terlihat dari penjualan judul unggulan seperti Melee (7,41 juta) dan Mario Kart: Double Dash!! (6,88 juta) yang lebih rendah daripada game N64 top.
Secara teknis, game GameCube menggunakan disc yang lebih rentan rusak dibandingkan cartridge. Versi awal Wii mendukung disc GameCube, memperpanjang umur katalog di pasar sekunder, tetapi tidak menambah pasokan baru. Selain itu, re-release resmi sangat terbatas; baru pada tahun 2025 Nintendo mulai menambahkan beberapa judul GameCube ke Switch Online, tetapi hal ini belum signifikan menurunkan harga jual kembali.
Perbedaan harga sangat jelas. Metroid Prime bisa ditemukan di bawah Rp300.000, Paper Mario: The Thousand-Year Door sekitar Rp350.000–Rp500.000, dan Super Mario Sunshine rata-rata Rp400.000. Sementara itu, game seperti Super Smash Bros. Melee, Luigi's Mansion, dan Eternal Darkness berkisar antara Rp500.000–Rp700.000. Judul seperti Pokémon Colosseum atau Chibi-Robo! bisa mencapai Rp1,5 juta–Rp2 juta.
Di Indonesia, pasar game retro masih didominasi oleh situs jual beli online dan komunitas kolektor di media sosial. Game GameCube yang langka sering diimpor dari luar negeri, meningkatkan biaya bea cukai dan harga eceran. Kolektor lokal yang tumbuh sejak era PlayStation 2 kini memasuki usia 25–35 tahun, sehingga permintaan akan game klasik meningkat, tetapi pasokan tetap terbatas karena produksi disc tidak pernah diulang.
Dampak dari kelangkaan ini terasa di komunitas gaming. Pemain yang ingin memainkan game seperti Paper Mario: The Thousand-Year Door terpaksa membeli dalam kondisi sangat baik atau beralih ke emulator, yang menimbulkan perdebatan tentang legalitas. Di sisi lain, harga tinggi menciptakan insentif bagi penerbit untuk mempertimbangkan re-release digital, seperti yang mulai dilakukan Nintendo dengan Switch 2.
Bagi industri, tren ini menunjukkan peluang. Dengan pertumbuhan minat pada game retro di Asia Tenggara, Nintendo dapat memanfaatkan momen ini dengan merilis bundle GameCube secara digital atau bekerja sama dengan platform penjual beli resmi di Indonesia untuk menyediakan katalog yang lebih luas. Hal ini tidak hanya akan memenuhi permintaan pasar tetapi juga membantu melestarikan sejarah game.
Kesimpulannya, harga tinggi game GameCube adalah hasil dari penjualan rendah di masa lalu, disc yang rentan rusak, dan permintaan tinggi dari kolektor yang mencari nostalgia. Bagi pasar Indonesia, ini adalah pengingat bahwa game klasik tidak hanya barang antik, tetapi juga aset budaya yang nilai ekonominya terus tumbuh seiring dengan bertambahnya generasi baru penggemar.