Ekonomi dunia saat ini menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah guncangan geopolitik dan ekonomi yang bertubi-tubi. Sejak lonjakan inflasi pasca-pandemi, kebijakan tarif Donald Trump, perang Rusia-Ukraina, hingga konflik di Iran yang memicu guncangan energi, dunia seolah mampu bertahan tanpa mengalami keruntuhan sistemik. Namun, para ahli mulai mempertanyakan apakah ketahanan ini merupakan cerminan dari kekuatan ekonomi yang sesungguhnya atau sekadar keberuntungan yang sewaktu-waktu bisa habis.
Laporan Ekonomi Tahunan terbaru dari Bank for International Settlements (BIS) memberikan analisis mendalam mengenai fenomena ini. Meskipun ekonomi global terbukti tangguh, terdapat akumulasi risiko yang semakin nyata, terutama pada interaksi antara kerentanan fiskal dan stabilitas finansial. Situasi ini diperburuk dengan munculnya tantangan baru yang belum sepenuhnya dipetakan, yakni dampak sosial dan finansial dari adopsi kecerdasan buatan (AI) yang masif di berbagai sektor industri.
Salah satu faktor yang menjaga ekonomi tetap stabil adalah dampak perang tarif Amerika Serikat yang ternyata tidak sedahsyat prediksi awal. Perusahaan-perusahaan AS memilih untuk menyerap sebagian biaya melalui margin keuntungan yang lebih rendah, sementara kebijakan tarif yang diskriminatif justru mendorong pengalihan jalur perdagangan melalui negara-negara berkembang di Asia Timur. Penting dicatat bahwa dunia tidak mengikuti langkah proteksionisme AS, yang membantu menjaga stabilitas perdagangan global tetap terjaga.
Keberuntungan makroekonomi terbesar yang dialami dunia saat ini adalah ledakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Tren ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan pasar saham secara signifikan, tetapi juga memicu lonjakan investasi domestik di Amerika Serikat. Efek domino dari investasi AI ini turut memberikan dorongan positif pada rantai pasok global, khususnya pada penyediaan komponen dari Asia Timur, yang menjaga arus perdagangan dunia tetap dinamis.
Namun, stabilitas ini menghadapi ujian berat pada tahun 2026 akibat konflik yang melibatkan Iran. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia, telah memberikan guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah. Meskipun cadangan stok global berhasil meredam dampak jangka pendek, penutupan jalur krusial ini selama berbulan-bulan menciptakan ketidakpastian yang mengancam keberlanjutan pertumbuhan ekonomi global.
Secara keseluruhan, BIS memperingatkan bahwa ketergantungan pada keberuntungan bukanlah strategi jangka panjang yang berkelanjutan. Ketika sektor publik menghadapi keterbatasan respons terhadap guncangan baru, kerentanan yang terakumulasi dapat memicu krisis yang lebih dalam. Dunia perlu bersiap menghadapi realitas di mana faktor keberuntungan mungkin tidak lagi mampu menutupi keretakan struktural dalam sistem keuangan dan fiskal global yang kini semakin rapuh.