Internasional

Produksi Dihentikan, Penjualan Toyota GR Supra Justru Melejit 72 Persen

Produksi Dihentikan, Penjualan Toyota GR Supra Justru Melejit 72 Persen

Ringkasan

  • Toyota mencatatkan lonjakan penjualan GR Supra sebesar 72 persen setelah produksi dihentikan, sebuah fenomena yang kontras dengan penurunan minat pada model GR86.

Toyota secara resmi telah menghentikan produksi sedan sport ikonik mereka, GR Supra, sejak Maret 2026. Keputusan strategis untuk menutup lini perakitan di pabrik Graz, Austria, tersebut ternyata memicu fenomena pasar yang unik. Alih-alih meredup, permintaan terhadap model ini justru melonjak tajam saat para kolektor dan penggemar otomotif berlomba-lomba mengamankan unit tersisa sebelum mobil ini benar-benar hilang dari peredaran.

Data dari Carscoops menunjukkan bahwa selama paruh pertama tahun 2026, Toyota berhasil mengirimkan 2.116 unit Supra di pasar Amerika Serikat. Angka ini mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 71,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 1.231 unit. Momentum positif ini bahkan berlanjut hingga bulan Juni, di mana penjualan tercatat naik 45,8 persen menjadi 449 unit.

Kondisi kontras justru dialami oleh saudara kandungnya, Toyota GR86. Meskipun model ini masih diproduksi dan menawarkan harga yang lebih terjangkau, GR86 justru kehilangan daya tarik di mata konsumen. Sepanjang tahun 2026, pengiriman GR86 merosot sebesar 26,2 persen menjadi 4.007 unit. Penurunan minat ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen yang lebih menghargai aspek eksklusivitas model yang akan segera dipensiunkan dibandingkan ketersediaan unit baru.

Secara performa korporasi, Toyota Motor North America (TMNA) mencatatkan pertumbuhan penjualan yang solid sebesar 11,2 persen pada bulan Juni dan 1,5 persen secara tahunan. Kendaraan elektrifikasi menjadi pendorong utama, menyumbang lebih dari 57 persen dari total penjualan bulanan. Keberhasilan ini juga didukung oleh rekor penjualan tertinggi untuk model RAV4 Hybrid sepanjang sejarah perusahaan.

Di jajaran model lainnya, Toyota menghadapi dinamika pasar yang beragam. Model Prius mengalami tantangan berat dengan penurunan penjualan 42,3 persen sepanjang tahun ini, sementara ketersediaan unit yang terbatas menghambat performa RAV4 non-hybrid dan Land Cruiser yang masing-masing mencatatkan penurunan signifikan. Di sisi lain, model Highlander Hybrid dan 4Runner justru menunjukkan performa impresif dengan kenaikan penjualan masing-masing sebesar 48,9 persen dan 141 persen.

Keberhasilan Toyota dalam mempertahankan tren positif, khususnya pada model Camry yang naik 15,3 persen, membuktikan bahwa pasar sedan di Amerika Serikat masih memiliki basis penggemar yang loyal. Keandalan merek Toyota tetap menjadi faktor penentu utama di tengah fluktuasi selera pasar global. Fenomena GR Supra ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana strategi penghentian produksi dapat menciptakan nilai tambah instan bagi sebuah produk otomotif di mata para kolektor.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini memberikan wawasan bagi industri otomotif mengenai psikologi konsumen terhadap kelangkaan produk (scarcity effect) yang meningkatkan nilai jual unit menjelang penghentian produksi. Bagi pasar Indonesia, tren ini menunjukkan pentingnya manajemen siklus hidup produk bagi produsen dalam menjaga citra merek dan loyalitas pelanggan terhadap model-model berperforma tinggi.

Sumber Asli
Otomotif
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit