Ketegangan bernuansa etnis kembali mencuat di Malaysia menjelang pemilihan negara bagian Johor yang dijadwalkan berlangsung bulan depan. Fenomena ini menciptakan tantangan serius bagi stabilitas pemerintahan persatuan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Sejumlah pengamat politik mencatat bahwa isu-isu identitas kembali digunakan sebagai alat kampanye utama untuk menarik dukungan massa di wilayah tersebut.
Dalam dinamika politik yang berkembang, koalisi nasionalis Melayu, Barisan Nasional (BN), terlihat berupaya membatasi pengaruh Partai Tindakan Demokratik (DAP) yang didominasi oleh etnis Tionghoa. Langkah strategis ini menciptakan gesekan internal di dalam koalisi pemerintahan saat ini, di mana kepentingan politik antara partai-partai pendukung pemerintah mulai berbenturan secara terbuka di lapangan.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim saat ini tengah memimpin koalisi yang terdiri dari mantan rival politik. Ia berupaya keras menjaga stabilitas pemerintahan Pakatan Harapan—di mana DAP menjadi salah satu pilar utamanya—agar tetap solid hingga pemilihan umum nasional yang dijadwalkan pada tahun 2028. Namun, pemilu di tingkat negara bagian sering kali menjadi ujian berat bagi kohesi pemerintahan pusat.
Johor, yang terletak di bagian paling selatan Malaysia, menjadi titik panas utama dengan pemilihan yang ditetapkan pada 11 Juli. Isu pembagian etnis dilaporkan telah menjadi komoditas politik yang dianggap paling efektif untuk mengamankan suara pemilih. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperlebar jurang perbedaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Secara historis, Johor merupakan basis kuat bagi BN dan partai komponennya, UMNO, yang merupakan koalisi penguasa terlama di Malaysia sebelum akhirnya kehilangan kekuasaan pada tahun 2018 akibat skandal korupsi besar. Ketua BN Johor sekaligus penjabat menteri besar, Onn Hafiz Ghazi, kini berupaya mengonsolidasikan kembali pengaruh koalisi tersebut di wilayah yang sangat strategis ini.
Di sisi lain, DAP yang mengusung platform multi-etnis masih menghadapi tantangan besar. Banyak kelompok etnis Melayu yang masih menaruh curiga terhadap partai tersebut, sering kali memandangnya sebagai ancaman bagi dominasi kelompok etnis mereka. Dengan DAP yang akan memperebutkan 17 kursi di Johor, dinamika persaingan di negara bagian ini diprediksi akan menjadi barometer bagi arah politik Malaysia di masa depan.