Laporan terbaru Axios mengungkap bahwa hubungan antara Vance dan Netanyahu telah merosot ke tingkat konfrontasi pribadi selama beberapa bulan terakhir. Kedua pemimpin itu saling menuduh satu sama lain mencederai posisi politik masing-masing di tengah negosiasi sensitif dengan Iran.
Vance, yang semakin dominan dalam merumuskan kebijakan Luar Negeri AS terkait Tehran, menjadi pendorong utama nota kesepahaman yang bertujuan membatasi program nuklir Iran. Netanyahu dari awal menentang kerangka tersebut, meskipun ia memilih menahan kritik terbuka karena memperkirakan kesepakatan itu akan runtuh — prediksi yang kemudian terbukti benar.
Ketegangan pertama kali terlihat jelas pada percakapan telepon Maret lalu. Vance menyampaikan kepada Netanyahu bahwa penilaian Israel tentang perkembangan perang terlalu optimis, menurut sumber yang mengutip catatan internal. Netanyahu merespons dengan mengkritik peran Vance dalam membentuk kebijakan AS, menilai bahwa wakil presiden terlalu cepat memberikan konsesi kepada Tehran.
Di balik layar, Netanyahu mengeluhkan kritik publik Vance terhadap kebijakan Israel, sementara Vance menuding Netanyahu membiarkan sekutunya di media pro-Israel menyerang reputasinya. Vance bahkan menuduh Netanyahu berusaha menggagalkan nota kesepahaman dan mempertanyakan loyalitas perdana menteri kepada Presiden Donald Trump.
Pejabat senior dari kedua negara menggambarkan diskusi tersebut berlangsung blak-blakan, namun perbedaan pandangan pada isu-isu kunci tetap tidak terpecahkan. Kedua belah pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing meskipun terus berkomunikasi melalui saluran diplomatik resmi.
Kegagalan nota kesepahaman AS-Iran, yang diprediksi Axios dan kemudian dikonfirmasi oleh Middle East Monitor, menambah beban pada hubungan bilateral yang sudah rapuh. Analis memperkirakan ketidaksepakatan ini dapat memperlambat upaya deeskalasi di Timur Tengah dan memperkuat narasi konfrontasi.
Bagi Indonesia, ketegangan ini bukan sekadar isu diplomatik jauh. Fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh ketidakstabilan Teluk Persia langsung memengaruhi anggaran subsidi BBM dan inflasi domestik. Selain itu, sentimen opini publik Indonesia yang mayoritas Muslim cenderung memperhatikan kebijakan Israel terhadap Iran, yang bisa memengaruhi posisi Jakarta di forum internasional seperti OIC.
Impor energi Indonesia, terutama minyak mentah dan gas cair, tetap bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Setiap eskalasi militer yang mengganggu jalur angkutan Laut Merah atau Selat Hormuz berpotensi menaikkan biaya logistik dan menurunkan cadangan devisa.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia berusaha menjaga keseimbangan hubungan bilateral dengan AS dan Israel sekaligus menjaga solidaritas dengan negara-negara Muslim. Ketegangan Vance-Netanyahu menambah kompleksitas bagi diplomasi Jakarta dalam menavigasi tekanan geopolitik yang bertentangan.
Masa depan hubungan AS-Israel akan sangat bergantung pada apakah Trump memutuskan untuk menopang Vance atau Netanyahu dalam kebijakan Iran. Jika Vance terus memperkuat posisinya, Israel mungkin terpaksa menyesuaikan strategi diplomatiknya, yang pada gilirannya akan mengubah dinamika keamanan regional.
Para pengamat geopolitik menyarankan agar Indonesia memantau perkembangan ini melalui saluran diplomatik ganda dan mempersiapkan skenario mitigasi risiko pasokan energi. Keputusan kebijakan di Washington dan Yerusalem dalam bulan-bulan mendatang akan menentukan arah stabilitas Timur Tengah dan dampaknya bagi ekonomi nasional.