Industri perhiasan mewah global memasuki babak baru dengan peluncuran koleksi high jewelry untuk tahun 2026. Sedikitnya 11 maison ternama, termasuk Chanel, Bvlgari, Cartier, hingga Hermes, memamerkan mahakarya yang membutuhkan ratusan bahkan ribuan jam pengerjaan tangan.
Karya-karya satu-satunya ini bukan sekadar aksesori, melainkan perwujudan ambisi visi kreatif sebuah rumah mode. Mengutamakan kebebasan artistik, batu mulia yang sangat jarang ditemukan, serta ketelitian craftsmanship tingkat tinggi, koleksi tahun ini sukses mengaburkan batas antara perhiasan dan seni dekoratif.
Latar belakang peluncuran koleksi ini berakar pada upaya para maison untuk merayakan warisan historis sekaligus mengeksplorasi inspirasi baru. Mulai dari sejarah kuno, alam semesta, hingga dunia equestrian, setiap rumah mode menafsirkan narasi uniknya melalui logam mulia dan permata.
Chanel, misalnya, menghadirkan koleksi bertajuk Signes & Symboles yang terdiri dari 85 buah perhiasan. Koleksi ini berpusat pada empat emblem Gabrielle Chanel: bunga camellia, bintang, matahari bersinar, dan singa sebagai lambang zodiaknya. Inspirasinya diambil dari langit malam di Abbey of Aubazine dan cahaya Mediterania di Villa La Pausa.
Sementara itu, Cartier mengusung Le Choeur des Pierres dengan lebih dari 125 karya eksklusif yang menelan waktu pengerjaan di atas 85.000 jam. Rumah mode asal Prancis itu menempatkan karakter setiap batu permata sebagai inti desain, menyerupakan harmoni batu-batu dalam sebuah mahakarya seperti paduan suara yang selaras.
Bagi pasar Indonesia, geliat koleksi high jewelry ini mencerminkan ketangguhan segmen konsumen mewah di tengah ekonomi global yang fluktuatif. Koleksi seperti Bvlgari Eclettica yang menawarkan lebih dari 50 kreasi bernilai jutaan dolar menunjukkan bahwa permintaan akan aset bernilai seni dan investasi tetap tinggi di kalangan ekuitas swasta dan kolektor lokal.
Di sisi lain, kehadiran rancangan transformatif, seperti kalung Chanel yang bisa diubah menjadi gelang dan anting serta 15 karya transformabel dari Bvlgari, memberikan paradigma baru bagi pecinta perhiasan di Jakarta dan Bali. Fungsionalitas mewah ini mulai dilirik oleh desainer lokal yang ingin mengangkat craftsmanship Nusantara ke kelas global.
Meski perajin perhiasan Tanah Air belum menyentuh skala batu mulia sekelas 30,75 karat berlian Golconda dari Bvlgari, semangat pelestarian warisan melalui teknik ukir dan seting kompleks mulai menyeruak. Kolaborasi antara maison internasional dan pengrajin lokal di Indonesia berpotensi menjadi jembatan edukasi craftsmanship kelas dunia.
Bvlgari menonjolkan tema sculpture dan arsitektur melalui koleksi Eclettica yang mencakup 150 karya unik. Kalung Serpenti Imperial Heart yang dibintangi berlian historis 30,75 karat serta kalung Secret Garden dengan padparadscha safir 26,65 karat membuktikan komitmen rumah mode terhadap kelangkaan material dan setting yang rumit secara teknis.
Hermes pun tak ingin ketinggalan dengan koleksi kesembilan bertajuk Into the Horsescape. Menghindari penggambaran hewan secara literal, 90 perhiasan ini menafsirkan dunia berkuda melalui bentuk kekang, lasso, dan paku pandai besi yang dirajut dalam emas murni dan berlian. Pendekatan abstrak ini menegaskan bahwa high jewelry adalah kanvas ekspresi bebas.
Menyongsong masa depan, tren perhiasan kelas atas akan semakin mengarah pada karya lintas disiplin. Bvlgari telah memulai dengan menghadirkan jam tangan high jewelry, 10 tas one-of-a-kind, serta tiga flacon parfum kaca Murano yang dapat dikenakan sebagai perhiasan.
Inovasi material dan desain yang dapat beradaptasi akan terus mendominasi. Cartier dengan cincin Specula bercahaya berlian segitiga yang dapat diubah fungsinya, serta Chanel dengan simbol talisman keramik dan berlian, mengonfirmasi bahwa batas imajinasi maison hanya dibatasi oleh kemampuan teknis sang master craftsman.