Internasional

Kolkata Menyanyikan Nama Messi di Tengah Pekan Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • 300 suporter di Kolkata dukung Messi vs Cape Verde di Piala Dunia 2026 sejak subuh.

Sekitar 300 suporter Argentina berkumpul di Amartya Sen Udyan, Kolkata, pada pukul 05.45 hari Sabtu 4 Juli 2026 untuk menyaksikan laga Piala Dunia melawan Cape Verde. Mereka hadir sejak 03.30 pagi meski hujan semalaman membasahi lapangan, demi memberi dukungan langsung bagi Lionel Messi yang kembali memimpin timnya.

Kerumunan berbaju biru-putih itu menonton melalui layar raksasa di tengah taman kecil yang disulap menjadi markas Kolkata Argentina Football Fan Club. Speaker besar memantulkan sorak-sorai layaknya konser musik, sementara pagar dipenuhi bendera, potongan karton pemain, dan spanduk bertuliskan nama Messi. Tiap sosok Mac Allister, Martinez, atau Romero di dinding selalu dibayangi satu figur utama: penyerang bernomor punggung 10 itu.

Kota Kolkata memang dikenal memiliki ikatan emosional luar biasa dengan sepak bola Argentina. Klub suporter lokal tumbuh subur tiap edisi Piala Dunia, namun fanatisme tertinggi selalu tertuju pada Messi. Usianya kini 39 tahun, namun bagi penggemar di Bengal, ia dipandang sebagai mentor lapangan yang semakin matang mengatur ruang dan waktu.

Laga melawan Cape Verde berlanjut ke babak tambahan, sesuatu yang tak diperkirakan banyak pihak. Lisandro Martinez akhirnya memecah kebuntuan lewat tendangan kaki kiri ke sudut gawang, memicu ledakan suka cita di taman tersebut. Para suporter merekam diri mereka sendiri sambil berteriak, sebuah kebiasaan generasi milenial yang tumbuh dengan reel, podcast, dan vlog.

Di Kolkata, sebutan Messi dilafalkan dengan ciri khas sendiri: MAY-SI, dengan suku pertama dipanjangkan. Sorakan itu serempak menggema saat Argentina tertatih namun selalu menemukan jalan lewat kaki Messi. Enam gol di fase grup seluruhnya lahir dari dirinya, begitu pula gol penentu saat timnya terdesak oleh Mesir, Swiss, dan Inggris.

Turnamen 2026 menghadirkan pemain seangkatannya seperti Luka Modric dan Manuel Neuer yang berusia 40 tahun, serta rival lama Cristiano Ronaldo yang sudah 41. Namun nama Messi tetap memancarkan daya tarik tersendiri, termasuk di mata penggemar muda yang menganggapnya sebagai underdog romantis melawan kekuatan Prancis atau Spanyol.

Kehadiran Messi di Kolkata tahun lalu meninggalkan bekas mendalam. Shib Sankar Patra, mantan pesepak bola klub lokal sekaligus pemilik warung teh, terpilih pemerintah negara bagian untuk bertemu sang bintang. Ia hingga kini mengenang momen itu sebagai pertemuan dengan saudara sendiri, dengan De Paul berdiri di belakang Messi.

Fotografer olahraga Debjoy Biswas menonton langsung laga grup di Amerika Utara. Baginya, melihat Messi dari jarak dekat memberi perspektif tentang antisipasi dan penguasaan ruang yang tak tertangkap televisi. Salah satu jepretannya menampilkan Messi membelakangi kamera usai mencetak gol, meninggalkan pemain Austria tergeletak di rumput.

Di Indonesia, euforia serupa kerap muncul saat ajang internasional, meski basis suporter terpecah antara Messi dan Ronaldo. Komunitas Argentina Indonesia sering menggelar nobar di kafe Jakarta dan Surabaya, namun belum menyentuh level ritual komunal ala Kolkata. Media sosial lokal ikut memperkuat fanatisme lewat meme dan cuplikan gol yang viral dalam hitungan menit.

Perbedaannya, penggemar di Tanah Air lebih banyak menikmati pertandingan lewat layar smartphone ketimbang berkumpul di ruang terbuka sejak dini hari. Hal ini menunjukkan bahwa budaya suporter di Asia Tenggara cenderung individualistik dibanding gaya kolektif India yang menggabungkan unsur politik, musik, dan agama dalam dukungannya.

Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi penampilan terakhir Messi di level tertinggi. Penggemar Kolkata berupaya menyerap tiap detiknya, menyadari bahwa sosok seperti dirinya tidak akan mudah tergantikan. Generasi penonton yang lahir di era digital mulai mengarsipkan momen ini sebagai bagian dari sejarah pribadi mereka.

Ke depan, fan club di berbagai negara dipastikan akan merancang kegiatan perpisahan simbolis menjelang pensiunnya Messi. Di Indonesia, potensi kolaborasi antara komunitas suporter dan platform streaming lokal dapat meningkatkan pengalaman nonton kolektif, sekaligus memperkuat ekonomi kreatif di sekitar sepak bola.

Mengapa Ini Penting

Fenomena Kolkata menunjukkan bagaimana figur olahraga global menyatukan komunitas lintas budaya lewat ritual kolektif yang langka di era digital. Bagi Indonesia, ini menggarisbawahi peluang penguatan ekonomi kreatif berbasis komunitas suporter yang belum tergarap maksimal. Euforia serupa dapat dikapitalisasi lewat event lokal dan platform streaming demi memperkuat industri sepak bola nasional.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
18 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit